— Harga emas kini berada di titik krusial setelah berhasil menembus pola konsolidasi yang telah berlangsung selama beberapa bulan. Meskipun momentum penguatan mulai berpihak pada pembeli, arah pergerakan logam mulia selanjutnya diperkirakan sangat bergantung pada rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat (AS) periode Juli yang dijadwalkan pada Jumat (7/8/2026).

Pada Jumat (7/8/2026), harga emas terpantau stabil di level US$ 4.241,6 per ons troi saat berita ini ditulis.

Senior Technical Strategist Forex.com, Michael Boutros, mengatakan bahwa breakout tersebut merupakan perkembangan teknikal paling positif sejak harga emas terkoreksi pada Maret lalu. Namun, reli yang terjadi kini menghadapi area resistance penting yang akan menentukan keberlanjutan tren kenaikan.

Menurut Boutros, harga emas saat ini sedang menguji area US$ 4.305-4.319 per ons troi. Level ini merupakan area retracement Fibonacci 38,2% dari penurunan April sekaligus area pembukaan harga tahunan. Penembusan di atas level tersebut akan menjadi sinyal kuat bahwa tren naik masih berlanjut.

“Jika harga mampu ditutup di atas US$ 4.319 per ons troi, peluang reli menuju target berikutnya akan semakin terbuka,” ujarnya dalam risetnya.

Boutros memperkirakan, target kenaikan berikutnya berada di sekitar US$ 4.367 per ons troi, sebelum akhirnya menguji area US$ 4.491-4.533 per ons troi yang menjadi resistance teknikal berikutnya.

Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa koreksi masih berpeluang terjadi apabila harga gagal mempertahankan momentum. Selama harga emas tetap bertahan di atas US$ 4.165 per ons troi, prospek pemulihan masih terjaga.

Namun, jika harga turun menembus area US$ 4.074-4.098 per ons troi, sinyal breakout dinilai gagal. Hal ini akan membuka peluang koreksi yang lebih dalam, dengan support berikutnya berada di sekitar US$ 4.007 per ons troi.

NFP Jadi Penentu Arah Emas

Boutros menilai, perhatian pelaku pasar kini sepenuhnya tertuju pada data Nonfarm Payrolls (NFP) AS. Data ini merupakan indikator utama kondisi pasar tenaga kerja sekaligus acuan bagi The Fed dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.

Ia menambahkan, apabila data ketenagakerjaan AS menunjukkan hasil lebih kuat dari perkiraan, ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga tinggi The Fed diperkirakan akan menguat. Kondisi tersebut berpotensi menekan harga emas karena meningkatkan daya tarik aset berbunga.

“Sebaliknya, data NFP yang lebih lemah dapat mendorong pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga, sehingga menjadi katalis positif bagi emas untuk melanjutkan reli setelah breakout,” jelasnya.

Menurut Boutros, respons pasar terhadap data NFP serta posisi penutupan perdagangan pada akhir pekan akan menjadi konfirmasi penting. Hal ini akan menentukan apakah breakout kali ini mampu berkembang menjadi tren kenaikan yang lebih kuat atau hanya bersifat sementara.