Detak Media — Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan melambat pada triwulan II-2026. Perlambatan ini dipicu oleh melemahnya konsumsi rumah tangga setelah periode liburan dan berkurangnya kontribusi ekspor neto terhadap pertumbuhan produk domestik bruto (PDB).
Berdasarkan jajak pendapat Reuters terhadap para ekonom, PDB Indonesia diproyeksikan tumbuh 5,10% secara tahunan pada periode April-Juni 2026. Angka ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 5,61% yang tercatat pada triwulan I-2026. Survei yang melibatkan 28 ekonom ini juga memperkirakan ekonomi tumbuh 3,50% secara kuartalan, menunjukkan pemulihan dari kontraksi tipis pada periode Januari–Maret. Data resmi pertumbuhan ekonomi Indonesia dijadwalkan akan diumumkan pada Rabu, 5 Agustus 2026.
Ekonom Senior Asean OCBC Bank, Lavanya Venkateswaran, menilai perlambatan konsumsi menjadi salah satu faktor utama yang menahan laju pertumbuhan ekonomi. “Konsumsi kita melambat, sebagian karena dampak musim liburan, tetapi juga karena dukungan kebijakan fiskal untuk konsumsi belum begitu kuat,” kata Lavanya.
Indikasi pelemahan konsumsi terlihat dari data penjualan ritel yang turun 3,7% pada April dan 3,9% pada Mei secara tahunan. Penurunan ini mencerminkan kontraksi terdalam dalam tiga tahun terakhir dan menandakan melemahnya permintaan domestik.
Selain konsumsi, kontribusi ekspor neto terhadap pertumbuhan juga diperkirakan menyusut. Meskipun harga komoditas mengalami peningkatan, lonjakan impor energi pada April dan Mei akibat perang AS-Iran memperbesar tekanan terhadap neraca perdagangan. Data resmi mencatat Indonesia mengalami defisit perdagangan sebesar US$ 1,61 miliar pada Mei 2026, yang merupakan defisit pertama dalam enam tahun terakhir. Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada Senin mengonfirmasi bahwa defisit neraca perdagangan kembali terjadi pada Juni, meskipun nilainya menyusut menjadi US$ 450 juta.
“Dibandingkan dengan negara-negara tetangga di kawasan ini, pertumbuhan ekspor Indonesia tidak sekuat itu. Jadi kami memperkirakan hal ini akan terus menjadi penghambat di triwulan kedua,” ujar Lavanya.
Di sisi lain, belanja pemerintah diperkirakan tetap memberikan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi, meskipun kontribusinya tidak sebesar pada triwulan sebelumnya. Pada triwulan I-2026, belanja pemerintah mencatat lonjakan hampir 22%. Pemerintah telah mengalokasikan Rp 381,3 triliun atau sekitar US$ 21,20 miliar untuk subsidi energi guna melindungi masyarakat dari kenaikan biaya bahan bakar dan listrik yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah.
Prospek Triwulan Mendatang
Jajak pendapat Reuters lainnya memperkirakan ekonomi Indonesia secara umum masih mampu mempertahankan pertumbuhan di kisaran 5% dalam beberapa triwulan mendatang. Namun, prospek ini dibayangi oleh kenaikan harga energi dan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 100 basis poin sejak Mei.
Kenaikan suku bunga acuan tersebut dilakukan untuk menopang nilai tukar rupiah, yang masih melemah lebih dari 7% sepanjang tahun ini. Ekonom ANZ, Krystal Tan, mengatakan pertumbuhan kredit yang tetap kuat belum tentu mampu menutupi perlambatan aktivitas ekonomi yang lebih luas. “Meskipun pertumbuhan kredit tetap kuat, hal ini kemungkinan tidak akan sepenuhnya mengimbangi tanda-tanda perlambatan aktivitas yang lebih luas,” ujar Krystal.
“Ke depan, pengetatan kondisi fiskal baru-baru ini, ketidakpastian eksternal, dan sentimen sektor swasta yang masih berhati-hati kemungkinan akan membatasi laju pertumbuhan,” imbuh dia. Para ekonom juga mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi saat ini masih menyisakan kesenjangan pendapatan yang semakin lebar dan berada di bawah target pertumbuhan 8% yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto pada 2029.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.