Detak Media — JAKARTA – PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) menunjukkan pemulihan kinerja operasional pada paruh pertama tahun 2026. Meskipun pendapatan terkonsolidasi mengalami penurunan 5% YoY menjadi US$693 juta, perusahaan berhasil mencatatkan pertumbuhan EBITDA sebesar 8% secara tahunan (YoY), mencapai US$69 juta dari US$64 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan laba kotor sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi ini ditopang oleh strategi efisiensi operasional, optimalisasi armada, serta pengelolaan biaya dan modal yang disiplin.
Direktur BUMA International Group, Iwan Fuad Salim, menyatakan bahwa perbaikan margin dan penguatan arus kas bebas menjadi bukti keberhasilan berbagai langkah strategis yang telah diimplementasikan di seluruh lini operasional. Ia menambahkan bahwa upaya optimalisasi tenaga kerja dan pemeliharaan telah membuahkan hasil positif, bahkan di tengah tantangan penurunan pendapatan dan lonjakan harga bahan bakar.
“Kemajuan ini semakin terlihat jelas sepanjang kuartal kedua, ditandai dengan keandalan armada yang meningkat, produktivitas yang lebih tinggi, serta peningkatan produksi. Memasuki semester kedua, prioritas kami adalah melanjutkan momentum operasional ini, menjaga disiplin biaya dan modal, serta mengelola eksposur harga bahan bakar seiring upaya kami memperkuat perolehan arus kas,” ujar Iwan dalam keterangan rilisnya.
Penurunan pendapatan pada semester I-2026 dipengaruhi oleh berakhirnya sejumlah kontrak tambang, termasuk di site Binungan milik Berau Coal dan IBP milik Resource Alam Indonesia di Indonesia, serta site Burton milik Bowen Coking Coal di Australia. Hal ini menyebabkan volume overburden removal turun 11% menjadi 186 juta bank cubic meters (BCM), sementara produksi batu bara terkoreksi 16% menjadi 32 juta ton.
Namun, kinerja operasi inti di luar lokasi kontrak yang berakhir atau mengalami ramp-down menunjukkan pertumbuhan. Volume overburden removal di area tersebut meningkat sekitar 9% YoY dan produksi batu bara naik 4% YoY. Perseroan juga berhasil meningkatkan average selling price (ASP) jasa kontraktor pertambangan sebesar 8% YoY, didukung oleh penyesuaian kontrak rise-and-fall serta tier-price.
Perbaikan operasional semakin kentara pada kuartal II-2026. Tingkat ketersediaan armada meningkat, dengan lebih dari separuh armada mencatat physical availability di atas 90%. Waktu henti (downtime) armada turun 11% dibandingkan kuartal sebelumnya dan 22% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kepatuhan terhadap pemeliharaan terjadwal meningkat menjadi 46%, yang berkontribusi pada peningkatan keandalan alat berat, tercermin dari peningkatan mean time between stops (MTBS) dan penurunan mean time to repair (MTTR) menjadi 7,5 jam.
Peningkatan availability dan utilisasi alat berdampak langsung pada produktivitas. Jam operasi per unit naik 17% dibandingkan kuartal sebelumnya, sementara jam nonproduktif turun 8%. Hal ini mendorong volume overburden removal pada kuartal II-2026 meningkat 10% secara kuartalan menjadi 97 juta BCM dan produksi batu bara naik 20% menjadi 17 juta ton. Perbaikan kondisi jalan angkut, pengelolaan lalu lintas tambang, serta cuaca yang lebih kering turut mendukung peningkatan produksi tersebut.
Dari sisi biaya, lonjakan harga bahan bakar tetap menjadi tantangan utama. Biaya unit per BCM meningkat 23% dibandingkan kuartal II-2025 akibat kenaikan harga bahan bakar, meskipun konsumsi bahan bakar per BCM justru turun 7% berkat peningkatan efisiensi armada. Di sisi lain, biaya tenaga kerja per BCM turun 7% secara tahunan sebagai hasil program efisiensi yang dijalankan sejak 2025. Biaya perbaikan dan pemeliharaan juga mulai menunjukkan penurunan setelah normalisasi pengeluaran pada kuartal pertama.
Penguatan arus kas juga menyertai perbaikan profitabilitas. Perseroan mencatat rugi bersih sebesar US$50 juta, mengalami penurunan 37% dibandingkan rugi bersih semester I-2025 yang mencapai US$80 juta. Belanja modal (capital expenditure/capex) berhasil ditekan 67% menjadi US$37 juta, sehingga arus kas bebas meningkat signifikan menjadi US$39 juta dari US$5 juta pada periode yang sama tahun lalu. Sebagian besar belanja modal tahun ini difokuskan untuk pemeliharaan armada guna menjaga keberlanjutan operasional.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.