— JAKARTA, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) secara perlahan namun pasti mulai merasakan dampak positif dari diversifikasi bisnisnya ke sektor pembangkitan listrik. Langkah ini menjadi krusial mengingat prediksi moderasi harga komoditas minyak dan gas (migas) pada semester II-2026.

Bisnis kelistrikan Medco kini tidak lagi sekadar menjadi usaha pendukung, melainkan telah bertransformasi menjadi salah satu motor penggerak utama kinerja perseroan. Buktinya, sepanjang kuartal I-2026, penjualan listrik MEDC mencapai 1.063 GWh, sebuah lonjakan signifikan sebesar 20,8% secara tahunan (year-on-year/yoy). Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan utilisasi pembangkit serta ekspansi PT Energi Listrik Batam (ELB) yang mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) di Tanjung Uncang, Batam.

Keberhasilan diversifikasi MEDC di sektor listrik sejalan dengan arah pengembangan energi nasional dan upaya perseroan dalam menangkap potensi energi terbarukan di pasar regional. Medco terus memperluas portofolio kelistrikannya dengan membangun Pembangkit Listrik Panas Bumi (PLTP) Ijen Fase I (35 MW) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Bali Timur (25 Mwp), yang keduanya telah beroperasi sejak 2025, bersama proyek energi terbarukan lainnya.

Director & Chief Administrative Officer Medco Energi, Amri Siahaan, mengakui bahwa kebutuhan migas masih tetap tinggi. Namun, di sisi lain, pasar juga menuntut ketersediaan energi terbarukan. “Kami mempunyai Medco Power yang tentunya ada energi terbarukan,” ujarnya.

Analis MNC Sekuritas, Christian Sitorus, memproyeksikan bahwa dengan portofolio Medco yang mencakup enam produsen listrik independen (IPP) berbahan bakar gas, dua IPP panas bumi, dan dua IPP tenaga surya, penjualan listrik perseroan diperkirakan akan mencapai sekitar 4.550 GWh untuk keseluruhan tahun 2026 (full year/FY).

Oleh karena itu, Christian melihat pertumbuhan laba MEDC ke depan tidak hanya ditopang oleh tambahan volume produksi dan komersialisasi proyek gas baru, tetapi juga oleh membesarnya kontribusi bisnis pembangkitan listrik. Hal ini diharapkan dapat semakin mengurangi ketergantungan Medco terhadap volatilitas harga minyak.

“Kami memperkirakan, harga minyak akan mengalami moderasi dari level tinggi sebelumnya, sejalan dengan tekanan margin yang mulai terlihat pada kuartal I-2026. Kami mengasumsikan, harga minyak Brent rata-rata sebesar US$75 per barel pada FY26F, seiring meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan pasar energi global yang menjadi lebih seimbang,” tulis Christian dalam riset terbarunya yang dipublikasikan, Rabu (15/7/2026).

Teken Perjanjian Hulu Migas

Selain mengembangkan portofolio bisnis listrik, emiten keluarga Panigoro ini juga terus mengoptimalkan portofolio hulunya melalui komersialisasi gas. Hal ini ditandai dengan penandatanganan perjanjian jual beli gas (PJBG) bersama PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dan Pertamina Patra Niaga. Perjanjian ini akan memasok 159 TBTU gas bumi selama periode FY27F–FY37F dengan estimasi nilai kontrak mencapai US$1,3 miliar.

Produksi gas ditargetkan dimulai pada kuartal III-2027 dengan volume sekitar 80 MMSCFD. Meskipun kontrak berlaku selama 10 tahun, Christian mengestimasi periode produksi efektif hanya sekitar delapan tahun setelah memperhitungkan fase peningkatan dan penurunan produksi di awal serta akhir kontrak.

Bersama PGAS, Medco E&P Grissik juga memperpanjang perjanjian penjualan gas hingga FY30F untuk pasokan sebesar 4 BBTUD dari Blok Corridor. Christian menambahkan, Blok Corridor akan tetap menjadi kontributor produksi utama Medco setelah perseroan memperbesar porsi Participating Interest (PI) menjadi 70%, yang menambah produksi sekitar 25 ribu BOEPD. Sementara itu, proyek Bualuang Fase-1 di Thailand diperkirakan mulai berproduksi pada kuartal II-2026.

Ekspansi perseroan di Blok Cendramas, Malaysia, dengan mengakuisisi 50% PI, akan efektif pada September 2026. Christian menilai, Blok Cendramas akan memperkuat lini pertumbuhan jangka menengah perseroan. Lokasinya yang berdekatan dengan South Natuna Sea Block B memungkinkan Medco memanfaatkan infrastruktur eksisting, keahlian teknis, serta sinergi operasional, sekaligus mendukung penggantian cadangan dan pertumbuhan produksi di masa depan.

Target Harga Saham dan Risiko

Christian memproyeksikan produksi MEDC tahun ini akan mencapai 158 ribu BOEPD dan 168 ribu BOEPD pada 2027. Angka ini didukung oleh kontribusi Blok Sakakemang, ekspansi regional di Malaysia, dan optimalisasi aset eksisting. Proyeksi ini akan mendongkrak pendapatan MEDC menjadi US$2,669 miliar pada 2026 dan US$2,972 miliar pada 2027, atau naik 11,4% secara yoy. EBITDA diprediksi meningkat menjadi US$1,324 miliar dan US$1,415 miliar (+5,4% dan +6,9% yoy). Sementara laba bersih diprediksi mencapai US$227 juta dan US$242 juta.

“Kami mempertahankan rekomendasi ‘buy’ dengan target harga Rp1.700 per saham yang mencerminkan valuasi PER/PBV FY26F sebesar 10,7x/1,0x, berdasarkan asumsi risk-free rate 7,2% dan equity risk premium 4,0%. Kami menilai, valuasi MEDC saat ini masih menarik, didukung oleh prospek pertumbuhan produksi yang solid, pipeline proyek yang kuat, serta kontribusi yang semakin besar dari komersialisasi gas,” jelas Christian.

Meskipun demikian, Medco tidak lepas dari risiko. Christian mencatat, beberapa tantangan utama bagi kinerja perseroan antara lain harga komoditas yang lebih rendah dari prediksi, risiko eksekusi penyerapan (offtake) gas, dan keterlambatan peningkatan produksi (production ramp-up).

Sebagai gambaran, sepanjang kuartal I-2026, margin kotor Medco menyusut menjadi 34,7%, lebih rendah dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar 40,9% dan kuartal IV-2025 sebesar 43,5%. Penyebabnya adalah tingginya biaya per unit di Blok Corridor serta lapangan Forel dan Terubuk sebelum blok-blok tersebut mencapai produksi optimal.

Blok Corridor dan lapangan Forel & Terubuk berkontribusi menaikkan produksi migas Medco sebesar 18,1% secara yoy pada tiga bulan pertama tahun ini. Selain itu, kontribusi dari PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) turut mengerek laba MEDC melambung tinggi sebesar 282,3% secara yoy menjadi US$67 juta.