— Direktur Utama GoTo, Hans Patuwo, menanggapi harga saham perusahaan yang masih bertahan di level Rp 50 per saham. Hans menilai harga tersebut tidak mencerminkan nilai fundamental perusahaan, terutama mengingat kinerja operasional GoTo yang terus menunjukkan perbaikan.

Menurut Hans, pasar sempat merespons positif setelah GoTo mengumumkan kinerja keuangan kuartal I pada 28 April lalu, yang menyebabkan harga saham emiten teknologi GOTO naik dari kisaran Rp 51-Rp 52 menjadi Rp 58 per saham. “Kami mengumumkan hasil kuartal pertama pada 28 April dan pasar bereaksi positif. Harga saham naik dari sekitar Rp 51-Rp 52 menjadi Rp 58,” ujar Hans Patuwo.

Namun, penguatan tersebut tidak berlangsung lama. Hans menjelaskan bahwa penyesuaian regulasi terkait batas komisi layanan penumpang roda dua (GoRide) sebesar 8%, ditambah sentimen pasar global secara keseluruhan, membuat harga saham GoTo kembali turun ke level Rp 50. Meski demikian, Hans menegaskan pergerakan harga saham saat ini bukanlah cerminan kondisi fundamental GoTo.

“Kami tidak percaya bahwa harga tersebut mencerminkan nilai fundamental perusahaan. Kami yakin hasil-hasil yang kami tunjukkan dalam jangka panjang akan membuktikan kekuatan fundamental kami,” ujarnya.

Sebagai bagian dari upaya meningkatkan nilai bagi pemegang saham, GoTo telah memperoleh persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Juni lalu untuk menjalankan program pembelian kembali (buyback) saham senilai hingga Rp 3,5 triliun atau sekitar US$ 200 juta. “Kami telah meminta persetujuan pemegang saham dan mendapatkannya dalam RUPS Juni untuk menjalankan program buyback hingga Rp 3,5 triliun atau sekitar US$ 200 juta dalam bentuk saham,” kata Hans.

Kendati demikian, Hans menegaskan perusahaan induk Gojek dan GoPay tersebut tidak akan terburu-buru mengeksekusi buyback. Perseroan akan menunggu waktu yang tepat dengan mempertimbangkan kondisi makroekonomi agar aksi korporasi tersebut memberikan dampak yang maksimal. “Kami tidak terburu-buru. Kami ingin memastikan waktu dan kondisi makro sudah tepat sehingga ketika dana tersebut digunakan, dampaknya sesuai dengan yang kami harapkan,” kata Hans.

Selain buyback, GoTo juga berencana membatalkan saham treasuri yang dimiliki perusahaan. Langkah tersebut akan mengurangi jumlah saham beredar sehingga diharapkan dapat meningkatkan nilai bagi pemegang saham. “Kami juga akan membatalkan sekitar 2,7% saham treasuri dalam beberapa bulan ke depan setelah melalui proses regulasi yang berlaku,” tutup Hans.

Hans menegaskan fokus utama GoTo tetap pada peningkatan kinerja operasional dan penciptaan nilai jangka panjang. Menurutnya, fundamental perusahaan yang terus menguat pada akhirnya akan menjadi faktor utama yang menentukan apresiasi nilai saham perseroan di mata investor.

Sebelumnya, pada 29 Juli 2026, GoTo melaporkan kinerja keuangan kuartal II-2026. GoTo mencetak laba bersih di Kuartal II-2026 sebesar Rp 252 miliar, melanjutkan kinerja positif setelah sebelumnya meraih laba bersih pertama kali di kuartal I-2026 sebesar Rp 171 miliar. GoTo juga mencatatkan peningkatan Gross Transaction Value (GTV) inti sebesar 83% secara tahunan, menjadi Rp 164 triliun. Sementara itu, pendapatan bersih GoTo di kuartal ini meningkat 31% year-on-year menjadi Rp 5,7 triliun.