— Konglomerasi pakan ternak global asal Belanda, De Heus Group, terus memperluas jangkauan bisnisnya di industri peternakan Indonesia. Melalui anak usahanya, PT Universal Agri Bisnisindo (UAB), De Heus resmi menyelesaikan akuisisi aset strategis senilai Rp 70 miliar milik emiten peternakan unggas PT Janu Putra Sejahtera Tbk (AYAM).

Transaksi akuisisi aset ini menegaskan komitmen De Heus untuk menguasai ekosistem hulu-hilir perunggasan nasional. Sebelumnya, raksasa asal Belanda tersebut telah memegang kepemilikan mayoritas 80% saham pada anak usaha AYAM. Penyelesaian transaksi material pengalihan aset ini dilakukan pada 29 Juli 2026.

Berdasarkan keterbukaan informasi kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI), AYAM melepas aset tanah, bangunan, serta mesin operasionalnya yang berlokasi di Purbalingga, Jawa Tengah, kepada PT Universal Agri Bisnisindo. Meskipun hak kepemilikan telah berpindah, kegiatan operasional AYAM dipastikan tidak terganggu. Kedua belah pihak sepakat untuk mengikatkan diri dalam Perjanjian Sewa Menyewa atau skema sale and leaseback.

Nilai transaksi mencapai Rp 70 miliar. Angka ini masuk kategori transaksi material karena setara dengan 33,53 persen dari total ekuitas perseroan per 31 Desember 2025 yang tercatat sebesar Rp 208,79 miliar. Aset yang dialihkan mencakup 15 bidang tanah seluas 129.645 m² di Desa Grantung, Kecamatan Karangmoncong, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, beserta bangunan dan mesin/peralatan pendukungnya.

Fadhl Muhammad Firdaus, Direktur PT Janu Putra Sejahtera Tbk, menjelaskan, “Transaksi ini merupakan bagian dari langkah Perseroan dalam mengoptimalkan pengelolaan aset dan struktur pendanaan. Transaksi tersebut tidak memberikan dampak negatif terhadap kegiatan operasional Perseroan, karena aset tetap digunakan berdasarkan Perjanjian Sewa Menyewa yang telah disepakati.”

Profil De Heus Animal Nutrition

De Heus Animal Nutrition adalah konglomerasi multinasional keluarga asal Belanda yang didirikan pada tahun 1911. Perusahaan ini bergerak di bidang nutrisi dan pakan ternak global. Dengan jaringan operasi di lebih dari 20 negara dan ekspor ke puluhan negara lain, De Heus berperan penting dalam modernisasi rantai pasok protein hewan secara global.

Di Indonesia, De Heus memperkuat penetrasi pasarnya melalui anak usaha operasional seperti PT Universal Agri Bisnisindo (UAB). Kehadiran De Heus sebagai pemegang 80% saham anak usaha AYAM sekaligus pembeli aset fisik perseroan menunjukkan peta jalan jangka panjang mereka untuk mengamankan infrastruktur produksi peternakan di pusat-pusat pertumbuhan regional Indonesia, seperti Jawa Tengah.

Prospek Industri dan Strategi Perusahaan

Permintaan protein hewani terus meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk Indonesia yang diperkirakan mencapai sekitar 287 juta jiwa. Kesadaran masyarakat terhadap pemenuhan gizi dan konsumsi protein hewani yang meningkat menjadi pendorong utama pertumbuhan permintaan produk ayam dan telur.

Perseroan juga diuntungkan oleh kebijakan pemerintah yang menjaga keseimbangan pasokan melalui pengelolaan produksi dan distribusi nasional. Produksi telur nasional diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan domestik, sehingga mendukung stabilitas pasokan dan ketahanan pangan. Prospek industri perunggasan tetap positif, didukung oleh pertumbuhan konsumsi protein hewani, implementasi Program B30, serta berbagai kebijakan pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.

Kondisi ini membuka peluang bagi pelaku usaha yang memiliki sistem produksi terintegrasi, efisiensi operasional, dan jaringan distribusi yang kuat untuk meningkatkan daya saing dan memperluas pangsa pasar. PT Janu Putra Sejahtera Tbk (AYAM) terus memperluas pangsa pasar melalui penguatan jaringan modern trade, pelanggan korporasi, dan institusi.

“PT Janu Putra Sejahtera Tbk (AYAM) juga melihat peluang pada perusahaan yang memiliki kebutuhan penyediaan makanan dalam skala besar, termasuk sektor pertambangan, manufaktur, dan kawasan industri. Melalui program Janu Meet & Connect (JMC), Perseroan membangun kemitraan strategis dengan menghadirkan solusi produk protein hewani yang berkualitas dan berkelanjutan,” tutup Fadhl Muhammad Firdaus.

Akuisisi CJ Feed & Care Memperkuat Posisi De Heus di Asia

Pada akhir Maret 2026, De Heus Animal Nutrition telah menyelesaikan akuisisi CJ Feed & Care dari CJ Cheil Jedang. Langkah strategis ini menjadi tonggak penting dalam strategi pertumbuhan jangka panjang De Heus dan menegaskan komitmen berkelanjutan perusahaan dalam mendukung peternak di seluruh kawasan Asia. Akuisisi ini memperkuat posisi De Heus di pasar berkembang seperti Vietnam, Indonesia, dan Kamboja, serta memberikan akses langsung ke Korea Selatan dan Filipina. Transaksi ini mencakup 17 pabrik pakan dan operasional peternakan di Asia.

Di Indonesia, dengan fondasi bisnis CJ Feed & Care yang telah ada, De Heus berambisi memperkuat akses terhadap genetika unggul dan dukungan pembibitan untuk memberdayakan peternak dan meningkatkan produksi berkelanjutan.

“Akuisisi ini merupakan tonggak penting dalam strategi jangka panjang kami untuk memperkuat kehadiran De Heus di Asia,” ujar Gabor Fluit, CEO De Heus Animal Nutrition. “Dengan menggabungkan keahlian teknis dan hubungan pelanggan CJ Feed & Care dengan pengalaman lebih dari satu abad De Heus di bidang nutrisi hewan dan manajemen peternakan, kami dapat mempercepat pertumbuhan dan menghadirkan nilai yang lebih tinggi bagi peternak. Bersama-sama, kami membangun masa depan di mana peternak dan komunitasnya dapat tumbuh serta berkontribusi pada sektor protein hewani yang berkelanjutan dan tangguh.”

Kay De Vreese, Presiden Direktur De Heus Indonesia, menambahkan, “Akuisisi ini semakin memperkuat komitmen jangka panjang De Heus dalam mengembangkan sektor nutrisi hewan dan rantai nilai peternakan di Indonesia. Kami tumbuh bersama peternak melalui solusi nutrisi terintegrasi, dukungan teknis yang kuat, serta kolaborasi erat di sepanjang rantai nilai untuk mendukung ketahanan pangan dengan tetap mendukung dan bukan bersaing dengan peternak independen serta bermitra dengan UMKM dan peternak pembibitan lokal.”