Detak Media — JAKARTA – PT Darma Henwa Tbk (DEWA) sedang mengembangkan bisnis mineral sebagai pilar baru di luar dominasi jasa kontraktor pertambangan. Inisiatif ini merupakan bagian dari rencana besar perseroan untuk bertransformasi menjadi perusahaan holding.
Selama ini, DEWA dikenal sebagai emiten yang bergerak di sektor jasa kontraktor pertambangan. Namun, identitas tersebut kini diperluas dengan masuknya perseroan ke sektor komoditas mineral, tidak hanya emas, tetapi juga merambah komoditas lain seperti tembaga dan nikel.
Meskipun demikian, emiten Grup Bakrie ini akan tetap mempertahankan bisnis jasa kontraktor pertambangannya sebagai tulang punggung untuk mendukung ekspansi usaha di sektor komoditas mineral yang dipersiapkan sebagai poros baru pertumbuhan DEWA.
Direktur Darma Henwa, Ricardo Silaen, menjelaskan bahwa perseroan berencana menjadi perusahaan holding yang terintegrasi, dengan menempatkan mining service sebagai salah satu pilar sekaligus sumber arus kas dalam jangka pendek dan menengah. Dalam jangka panjang, perseroan ingin mengembangkan bisnis lain yang dapat memberikan kontribusi signifikan bagi pendapatan DEWA.
“Kami mengembangkan aset emas dan tembaga di Gayo, Aceh. Kami ingin menambah pendapatan baru dan going beyond the core. Jadi, kami tidak hanya dilihat sebagai pemain kontraktor pertambangan, tetapi juga menjadi perusahaan holding terintegrasi terkemuka yang membangun aset emas, tembaga, dan mineral lainnya,” ujar Ricardo dalam program ‘Emiten Corner’ yang digelar PT Reliance Sekuritas.
Terkait pengembangan aset emas dan tembaga di Gayo, Ricardo mengakui bahwa DEWA membutuhkan investasi besar. Perseroan berencana menyelesaikan eksplorasi tahap ketiga pada 2027. Mengingat biaya eksplorasi yang tidak sedikit, DEWA mengkaji sejumlah opsi pendanaan, termasuk penghimpunan dana publik melalui penawaran umum perdana (IPO) saham anak usaha.
Aksi korporasi tersebut bertujuan agar aset yang berlokasi di Kabupaten Gayo Lues dapat beroperasi secara komersial. “IPO atau rights issue sedang kami pertimbangkan. Belum ada keputusan final. Namun, IPO adalah opsi yang sangat menarik bagi kami. Jadi, rencana itu ada namun tidak tahun ini,” tegas Ricardo. Selain pengembangan aset emas dan tembaga, perseroan juga sedang mengerjakan proyek nikel di Sulawesi yang dijadwalkan beroperasi dalam waktu dekat.
Sebagai bagian dari transformasi bisnis, DEWA mulai mengadopsi kendaraan ramah lingkungan seperti kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dalam aktivitas bisnis di area pertambangan, menggantikan kendaraan konvensional berbasis mesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE). Hal ini sekaligus menjadi wujud sinergi bisnis perseroan di dalam ekosistem grup.
Paralel dengan transformasi yang berjalan, Ricardo menyebutkan bahwa kapasitas DEWA juga membaik dibandingkan periode sebelumnya. Sebelum 2023, kapasitas in house perseroan dari total produksi hanya sekitar 47% untuk overburden removal. Hal ini disebabkan perseroan seringkali melempar kontrak kepada pihak ketiga sebagai subkontraktor akibat keterbatasan armada.
Memasuki periode 2023-2025, kapasitas in house DEWA terus meningkat seiring bertambahnya armada. Volume produksi overburden removal ditargetkan meningkat menjadi 69% pada akhir 2025 dan naik lagi menjadi 83% per Maret 2026. Perbaikan ini didukung oleh permodalan dari Bank BCA dan Mandiri, termasuk vendor financing, yang memungkinkan DEWA melakukan peremajaan alat berat.
Hasilnya, kapasitas internal DEWA secara volume menguat dari semula 67 juta bcm menjadi 126 juta bcm. “Tahun 2026 ini, kami juga mulai mengambilalih proyek yang tadinya dikerjakan kontraktor lain. Efektif mulai Juni 2026, kapasitas in house kami sudah 100% dan kapasitas in house secara gabungan akan mendekati 100% pada semester II-2026,” ujarnya.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan, menaikkan proyeksi laba bersih DEWA untuk FY26/FY27/FY28 masing-masing sebesar 36%, 130%, dan 141%. Kenaikan ini mencerminkan kontribusi yang diharapkan dari proyek-proyek baru. “Kami mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga baru Rp550 (dari sebelumnya Rp300), berdasarkan valuasi sum of the parts (SOTP) yang menggabungkan nilai discounted cash flow (DCF) DEWA dan nilai Gayo Mineral Resources (GMR) sebesar Rp7 triliun sesuai nilai bukunya,” tulis Erindra dalam riset terbarunya.
Saat ini, saham DEWA diperdagangkan pada forward P/E 17,8 kali. Premi valuasi tersebut didukung oleh volume produksi yang tangguh dari KPC dan Arutmin, pipeline pertumbuhan proyek yang kuat, serta potensi peningkatan nilai dari GMR. “Kami memperkirakan laba bersih DEWA meningkat dari Rp748 miliar pada FY26F menjadi Rp1,52 triliun pada FY27F atau tumbuh 104% secara tahunan. Kenaikan ini didorong oleh manfaat penuh dari internalisasi armada sepanjang tahun dan peningkatan kontribusi proyek-proyek baru, sehingga volume pengupasan overburden diperkirakan mencapai sekitar 232 juta bcm,” paparnya.
Risiko utama yang membayangi proyeksi DEWA meliputi alokasi RKAB yang lebih rendah dari perkiraan, keterlambatan penempatan armada di proyek baru, serta kenaikan belanja modal, biaya bahan bakar, atau biaya pendanaan. Tahun ini, perseroan mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp4,3 triliun untuk menambah kapasitas baik di proyek eksisting seperti KPC dan Arutmin maupun di proyek baru yang akan ditandatangani. Sisanya, capex akan dibelanjakan untuk mendukung eksplorasi GMR yang seluruh tahapannya ditargetkan tuntas pada 2027.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.