Detak Media — PT Chandra Asri Pacific Tbk (Chandra Asri Group) mencatat lonjakan kinerja keuangan yang signifikan pada paruh pertama tahun 2026. Di tengah dinamika geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global, perseroan berhasil membukukan pendapatan sebesar US$ 5,3 miliar sepanjang semester I-2026. Angka ini melonjak 83,6 persen dari US$ 2,9 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan pendapatan tersebut mendorong torehan EBITDA perseroan mencapai US$ 802,6 juta dan laba bersih sebesar US$ 371,2 juta per akhir Juni 2026. Hasil ini melanjutkan tren positif perusahaan, di mana pendapatan semester I-2026 ini sudah merealisasikan sekitar 76 persen dari total pendapatan sepanjang tahun 2025 yang mencapai US$ 7 miliar.
Lompatan skala bisnis ini berdampak langsung pada nilai aset Chandra Asri Group yang melesat tinggi. Dalam rentang tiga tahun terakhir, total aset perseroan tumbuh pesat dari US$ 5,62 miliar pada tahun 2023 menjadi US$ 12,32 miliar pada 2025, hingga menembus lebih dari US$ 13 miliar pada akhir Juni 2026.
Group CFO dan Direktur Chandra Asri Group, Andre Khor, menyatakan bahwa pencapaian ini merupakan bukti keberhasilan strategi diversifikasi dan penguatan struktur permodalan perusahaan. “Ke depan, kami tetap fokus menjalankan strategi pertumbuhan melalui investasi yang disiplin, penguatan struktur permodalan, serta penyelesaian proyek-proyek strategis seperti CA-EDC untuk memperkuat daya saing Perseroan di Asia Tenggara,” ujarnya.
Chandra Asri Bertransformasi Jadi Pemain Energi & Infrastruktur Regional
Eksekusi strategi diversifikasi bisnis Chandra Asri dalam tiga tahun terakhir resmi mengubah peta jalan perusahaan. Berawal dari perusahaan petrokimia yang bergantung pada satu aset naphtha cracker, Chandra Asri kini telah menjelma menjadi platform regional penyedia solusi terintegrasi di tiga sektor utama: energi, kimia, dan infrastruktur dengan potensi pendapatan hingga US$ 10 miliar.
Langkah transformasi ini direalisasikan melalui serangkaian akuisisi dan ekspansi strategis di Asia Tenggara. Di sektor energi, perseroan merampungkan akuisisi perusahaan pengolahan energi Aster Chemicals and Energy Pte. Ltd. (Aster) di Singapura serta jaringan SPBU Esso milik ExxonMobil pada awal 2026. Langkah ini semakin diperkuat dengan pengoperasian Aster Ports & Terminals serta pembentukan kemitraan Aster Power bersama Sembcorp.
Di sektor kimia, perseroan mengakselerasi Proyek Strategis Nasional pembangunan pabrik Chlor-Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) di Cilegon yang kini telah mencapai progres 72 persen dan ditargetkan beroperasi komersial pada 2027. Chandra Asri juga mengambil keputusan investasi akhir (Final Investment Decision) senilai US$ 80 juta untuk ekspansi ekspor C2 guna mengintegrasikan fasilitas di Singapura dan Indonesia.
Sementara di sektor infrastruktur, konsolidasi bisnis melalui PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDI) yang kini berstatus perusahaan publik menjadi mesin pertumbuhan baru melalui penguatan armada logistik, pengembangan fasilitas tangki bitumen yang mencapai 75 persen, serta perluasan kolaborasi strategis regional. Transformasi ini tak hanya membentengi perseroan dari volatilitas industri, tetapi juga menempatkan Chandra Asri pada posisi strategis dalam rantai pasok energi dan kimia di Asia Tenggara.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.