— PT Bumi Resources Tbk (BUMI) telah menyelesaikan transaksi penjualan seluruh 100% sahamnya pada Wolfram Limited kepada entitas anaknya, Bumi Resources Australia Pty Ltd (BRA). Nilai transaksi penjualan ini mencapai AUD 63.500.005.

Transaksi ini diteken melalui perjanjian jual beli saham (share sale deed) pada 19 Maret 2026. BRA, yang berdomisili di Australia, merupakan anak usaha yang sepenuhnya dimiliki oleh BUMI. Penjualan saham ini merupakan bagian dari upaya restrukturisasi internal Grup Bumi Resources.

Manajemen BUMI menjelaskan bahwa transaksi ini tidak mengakibatkan perubahan pengendalian akhir atas Wolfram Limited. Perusahaan yang berbasis di Australia ini tetap berada di bawah kendali BUMI. Sejak 30 Maret 2026, BRA secara hukum telah efektif menjadi pemegang saham Wolfram Limited.

Pembayaran atas harga pengalihan saham dilakukan melalui fasilitas pendanaan yang diberikan oleh BUMI kepada BRA dalam bentuk pinjaman antar entitas. Hal ini telah diatur dalam perjanjian pinjaman yang ditandatangani kedua belah pihak pada tanggal yang sama saat perjanjian jual beli saham.

Emiten Grup Bakrie dan Salim ini sedang dalam proses transisi dari pemain batu bara menjadi emiten pertambangan yang terdiversifikasi. BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) mencatat bahwa BUMI gencar melakukan aksi akuisisi, termasuk 100% kepemilikan Wolfram (tembaga) pada November 2025, Jubilee (emas) pada Desember 2025, dan 45% saham Laman Mining (bauksit) dengan cadangan 30 juta ton.

Selain itu, BUMI juga berencana mengakuisisi Loyal Metals di Australia senilai Rp 977 miliar untuk menambah eksposur pada sektor tembaga dan emas. BRIDS juga melaporkan divestasi Citra Palu Mineral (CPM) ke BRMS senilai Rp 151,99 miliar pada Juni 2026 untuk merampingkan struktur, di mana CPM tetap berada dalam grup melalui BRMS. Hal ini mengindikasikan fokus pada aset jangka pendek yang menjadi kepentingan pengendali.

Menurut BRIDS, aksi korporasi BUMI dilakukan pada saat yang tepat, mengingat harga emas yang menembus US$ 4.000 per troy ounce dan kondisi pasar tembaga yang ketat (structural tight), yang menjadi angin segar bagi diversifikasi perusahaan. BRIDS mencatat saham BUMI mengalami penurunan signifikan dari Rp 236 pada kuartal I-2026 menjadi kisaran Rp 175, atau turun 26%. Penurunan ini mencerminkan sentimen negatif pada sektor batu bara dan koreksi pada konglomerasi.

Dengan harga Rp 175, saham BUMI diperdagangkan pada rasio Price to Earnings (PE) 39 kali dan Price to Book Value (PBV) 2,3 kali. BRIDS menilai saham BUMI saat ini relatif undervalued jika dibandingkan dengan valuasi historisnya, di mana PE pernah mencapai lebih dari 500 kali dan rata-rata 3 tahun terakhir adalah 159 kali. Angka PE 39 kali saat ini dianggap sebagai normalisasi ke level rasional setelah kemampuan laba BUMI kembali berkelanjutan dan restrukturisasi utang selesai.

BRIDS menambahkan bahwa cerita BUMI kini tidak lagi hanya bertumpu pada pemulihan harga batu bara, melainkan transformasi menjadi platform pertambangan terdiversifikasi dengan bauran komoditas tembaga, emas, bauksit, dan batu bara. Strategi akuisisi mineral di tengah tingginya harga emas dan tembaga dinilai sebagai langkah yang sangat strategis.