— PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) berhasil membukukan laba bersih secara konsolidasi sebesar Rp10,75 triliun pada semester I-2026. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 6,54% secara tahunan atau year on year (yoy). Memasuki paruh kedua tahun ini, BNI memproyeksikan kondisi likuiditas masih menantang, sehingga perseroan akan lebih selektif dalam menyalurkan kredit. Hal ini berpotensi berdampak pada penyusutan net interest margin (NIM).

Pencapaian laba ini didukung oleh pertumbuhan kredit yang tetap tinggi, peningkatan pendapatan bunga dan komisi, serta kualitas aset yang terjaga. Pendapatan bunga BNI tercatat meningkat 14,94% (yoy) menjadi Rp38,63 triliun. Meskipun beban bunga juga mengalami kenaikan sebesar 15,89% (yoy) menjadi Rp16,34 triliun, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) tetap tumbuh 14,2% (yoy) mencapai Rp22,28 triliun pada semester I-2026.

Direktur Finance & Strategy BNI, Hussein Paolo Kartadjoemena, menyatakan bahwa penguatan profitabilitas ini mencerminkan kontribusi bisnis inti perseroan yang semakin solid dengan sumber pendapatan yang lebih berimbang. “Peningkatan pendapatan tidak hanya berasal dari ekspansi kredit, tetapi juga dari pertumbuhan transaksi, solusi cash management, layanan digital, serta aktivitas berbasis komisi lainnya. Diversifikasi sumber pendapatan ini penting untuk menjaga ketahanan profitabilitas BNI dalam berbagai kondisi siklus ekonomi,” jelas Paolo.

Hingga akhir Juni 2026, total kredit BNI tumbuh signifikan sebesar 24,4% secara tahunan, mencapai Rp968,5 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh ekspansi yang terdiversifikasi pada segmen korporasi, menengah, UMKM, hingga konsumer. Dari sisi pendanaan, dana murah (CASA) BNI meningkat 11,2%, menjaga rasio CASA tetap stabil di level 65,4%. Kondisi ini berhasil menekan biaya dana (cost of fund) menjadi 2,56%, membaik dibandingkan periode sebelumnya yang tercatat 2,78%.

Dalam upaya transformasi, BNI terus memperkuat digitalisasi sebagai penggerak utama pertumbuhan bisnis. Hingga akhir Juni 2026, pengguna aplikasi wondr by BNI telah mencapai 15,1 juta, dengan volume transaksi melonjak 110% (yoy). Pada segmen wholesale, pengguna BNIdirect mencapai 280 ribu, dan volume transaksinya meningkat 17% menjadi Rp6.039 triliun.

Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan, menegaskan bahwa perseroan akan tetap fokus pada pertumbuhan berkualitas melalui penguatan bisnis inti, transformasi digital, dan implementasi program Branch, Region & Area Value Empowerment (BRAVE) untuk meningkatkan produktivitas jaringan kantor cabang. “Di tengah perubahan lingkungan bisnis yang semakin dinamis, BNI mengarahkan sumber daya pada sektor dan ekosistem yang memiliki prospek pertumbuhan sehat. Pendekatan ini memungkinkan perseroan menjaga produktivitas aset sekaligus meningkatkan relevansi layanan bagi nasabah di setiap segmen,” ujar Putrama.

Kualitas aset BNI tetap terjaga dengan baik. Rasio loan at risk (LAR) membaik dari 11% menjadi 8,1%, sementara non-performing loan (NPL) gross stabil di level 1,9%. Perseroan juga mempertahankan kebijakan pencadangan yang konservatif untuk menjaga ketahanan neraca dan mendukung ekspansi kredit yang sehat. Peningkatan pencadangan melalui impairment pada semester I-2026 tercatat sebesar Rp5,06 triliun, tumbuh 36,39% dibandingkan Rp3,71 triliun pada semester I-2025.

Direktur Risk Management BNI, David Pirzada, menyatakan bahwa kualitas aset yang sehat merupakan hasil dari penerapan manajemen risiko yang disiplin. Hal ini mencakup penetapan sektor prioritas, analisis kelayakan debitur, hingga pemantauan pascapenyaluran kredit.

Memasuki paruh kedua 2026, BNI menargetkan untuk terus menjaga pertumbuhan kredit yang berkualitas dengan target 8-10% (yoy) hingga akhir tahun. Selain itu, perseroan akan memperkuat struktur pendanaan, mempertahankan kualitas aset, serta melanjutkan transformasi digital dan organisasi untuk menopang pertumbuhan laba yang berkelanjutan.

Prospek BBNI di Semester II-2026

Lead Investment Analyst Stockbit Sekuritas, Edi Chandren, memprediksi kondisi likuiditas di semester II-2026 akan tetap menantang. Hal ini terlihat dari keputusan BNI yang memangkas target NIM menjadi lebih rendah dari rencana awal.

Manajemen BNI memperkirakan tantangan likuiditas akan meningkat seiring dengan jatuh temponya penempatan dana saldo anggaran lebih (SAL) dari pemerintah, serta proyeksi kenaikan suku bunga The Fed yang berpotensi diikuti oleh kenaikan BI Rate. Likuiditas yang lebih ketat ini diperkirakan akan mendorong peningkatan biaya dana, yang pada gilirannya menekan NIM BNI.

Untuk memitigasi tantangan tersebut, manajemen BNI akan menerapkan strategi yang lebih selektif dalam memberikan kredit baru, menyesuaikan laju pertumbuhan kredit dengan laju pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK). Selain itu, strategi loan repricing atau menaikkan suku bunga kredit, baik untuk klien baru maupun klien eksisting secara selektif, juga akan dilakukan.

Manajemen BNI memproyeksikan laju pertumbuhan kredit akan melandai pada semester II-2026 dibandingkan realisasi di paruh pertama, dengan NIM yang lebih rendah. “Oleh karena itu, guidance NIM untuk full year 2026 juga direvisi turun dari kisaran 3,5-3,8% menjadi 3,3-3,5%, dengan asumsi bahwa penempatan dana SAL oleh pemerintah akan ditarik seluruhnya sesuai jadwal jatuh tempo pada September dan Oktober 2026,” jelas Edi.

Stockbit menilai fundamental BBNI masih relatif solid dengan valuasi dan dividen yang atraktif, meskipun prospek pada semester II-2026 diprediksi lebih menantang. Pada penutupan perdagangan Rabu (5/8/2026), saham BBNI diperdagangkan pada valuasi 0,83x P/BV, level yang dianggap atraktif untuk investasi jangka panjang pada bank dengan fundamental solid.

BNI juga menawarkan dividen yang tinggi. Stockbit memperkirakan BNI dapat membagikan dividen Rp370 per saham dari tahun buku 2026, dengan asumsi laba bersih Rp21,3 triliun dan dividend payout ratio 65%. Jumlah tersebut mengimplikasikan dividend yield 10,2% berdasarkan harga Rp3.630 per saham.

Stockbit juga mencatat bahwa keputusan pemerintah untuk memperpanjang penempatan dana SAL sebesar Rp200 triliun hingga Juli 2027 berpotensi memberikan upside bagi NIM BNI, mengingat revisi turun guidance NIM yang disampaikan manajemen BNI diumumkan sebelum pengumuman perpanjangan penempatan dana SAL tersebut.