Detak Media — JAKARTA – Peningkatan produksi gula nasional tidak hanya bergantung pada perluasan lahan, tetapi juga pada produktivitas tebu per hektare dan rendemen. Rendemen, yang merupakan persentase kandungan gula dari tebu yang digiling, menjadi faktor krusial dalam menentukan hasil akhir produksi gula.
Direktur Utama PT Aman Agrindo Tbk (GULA), Andreas Utomo, menjelaskan bahwa perbaikan rendemen harus dilakukan secara menyeluruh mulai dari tahap budidaya. “Penggunaan varietas tebu unggul, kualitas bibit yang terjamin, kesesuaian varietas dengan kondisi agroklimat, tata kelola budidaya, hingga pengolahan di pabrik, perlu menjadi satu kesatuan dalam peningkatan produktivitas industri gula nasional,” kata Andreas dalam keterangannya, Jumat (31/7/2026).
Menurut Andreas, pemerintah dan pelaku industri perlu memperkuat ekosistem perbenihan tebu. Hal ini mencakup penyediaan benih unggul yang terstandarisasi, sehat, produktif, dan sesuai karakteristik wilayah, serta memastikan distribusinya menjangkau petani secara luas. “Perbaikan benih merupakan investasi jangka panjang. Jika kualitas tanaman sejak awal sudah lebih baik, maka produktivitas tebu dan potensi rendemennya juga dapat meningkat,” ujarnya.
Oleh karena itu, program peremajaan tebu nasional idealnya tidak hanya berfokus pada jumlah hektare lahan yang diremajakan, tetapi juga pada kualitas varietas dan benih yang digunakan. PT Aman Agrindo Tbk (GULA) menilai penguatan sistem perbenihan harus disertai pengembangan pusat pembibitan dan pengawasan mutu benih secara berkelanjutan. “Dengan demikian, program perluasan dan peremajaan tebu dapat menghasilkan peningkatan produktivitas yang terukur, bukan sekadar fokus pada peningkatan luas tanam,” jelasnya.
Target pemerintah untuk mewujudkan swasembada gula nasional dalam dua tahun menjadi momentum penting bagi transformasi industri gula Indonesia. Bagi PT Aman Agrindo Tbk (GULA), pencapaian target ini membutuhkan perluasan areal tebu, peningkatan produktivitas tanaman, dan kualitas bahan baku melalui perbaikan kualitas benih serta peningkatan rendemen tebu.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menargetkan Indonesia mencapai swasembada gula dalam dua tahun sebagai upaya memperkuat kemandirian pangan nasional. Pemerintah terus mempercepat program peremajaan tebu, pengembangan kawasan tebu skala besar, peningkatan produktivitas, dan penyediaan benih untuk mendukung target tersebut.
Kementerian Pertanian menargetkan produksi Gula Kristal Putih (GKP) nasional mencapai sekitar 3,04 juta ton pada 2026. Pemerintah juga mendorong peningkatan produktivitas tebu melalui kewajiban bagi pabrik gula untuk memiliki kebun di dalam negeri, serta meningkatkan kerja sama antara pabrik gula swasta, Badan Usaha Milik Negara, dan petani lokal.
Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan tebu, perdagangan gula, dan industri gula, PT Aman Agrindo Tbk (GULA) memandang peningkatan produktivitas dari sisi hulu sebagai salah satu kunci keberhasilan swasembada gula nasional. “Indonesia tidak cukup hanya menambah luas lahan tebu. Produktivitas per hektare juga harus ditingkatkan. Salah satu fondasi terpentingnya adalah kualitas benih. Tanaman yang berasal dari benih unggul dan sesuai dengan karakteristik lahannya akan memberikan peluang produktivitas dan rendemen yang lebih baik,” ujar Andreas.
Sinergi Pemerintah dan Industri Dibutuhkan
PT Aman Agrindo Tbk (GULA) melihat percepatan swasembada gula membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, perusahaan gula, petani tebu, lembaga penelitian, perguruan tinggi, serta pemangku kepentingan lainnya. Pemerintah memiliki peran penting dalam menciptakan ekosistem yang mendukung peningkatan produktivitas, mulai dari penyediaan benih unggul, riset dan pengembangan varietas, pendampingan petani, hingga mekanisme distribusi dan pembiayaan yang dapat mempercepat peremajaan tanaman tebu.
Di sisi lain, pelaku industri memiliki peran untuk terus meningkatkan efisiensi budidaya, memperkuat kemitraan dengan petani, mengembangkan teknologi pertanian, serta melakukan modernisasi proses pengolahan untuk meningkatkan rendemen dan produktivitas gula. “Target swasembada gula adalah target besar yang membutuhkan kontribusi seluruh ekosistem. Industri membutuhkan kepastian bahan baku yang berkualitas, sementara petani membutuhkan akses terhadap benih unggul, teknologi dan pasar. Jika keduanya dapat diperkuat secara bersamaan, produktivitas industri gula nasional akan memiliki fondasi yang lebih kuat,” tutup Andreas.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.