— PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) atau BNC berhasil membukukan laba bersih setelah pajak sebesar Rp294,85 miliar pada paruh pertama tahun 2026. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 6,81% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).

Pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) perseroan tercatat mencapai Rp1,11 triliun. Sementara itu, pendapatan berbasis komisi (fee based income) mengalami pertumbuhan 6,77% (yoy) menjadi Rp59,66 miliar, mengindikasikan perkembangan sumber pendapatan non-bunga BNC.

Pencapaian ini melanjutkan tren positif BNC yang secara konsisten membukukan laba selama dua tahun terakhir. Hal ini mencerminkan kinerja yang solid didukung oleh fundamental bisnis yang semakin kuat.

Dalam menghadapi dinamika ekonomi global yang masih diwarnai ketidakpastian geopolitik, suku bunga tinggi, dan tantangan industri keuangan, BNC memprioritaskan strategi pertumbuhan yang selektif, disiplin, dan berorientasi pada kualitas. Strategi ini terlihat dari perbaikan indikator fundamental dalam operasional, efisiensi, dan penguatan struktur permodalan.

Direktur Utama BNC, Eri Budiono, menyatakan bahwa kinerja semester I-2026 merefleksikan fokus perseroan dalam membangun fondasi bisnis yang sehat untuk fase pertumbuhan selanjutnya. “Semester I-2026 menunjukkan bahwa strategi kami untuk mengutamakan kualitas pertumbuhan, efisiensi operasional, serta pengelolaan risiko yang lebih disiplin telah memberikan hasil yang positif. Kami percaya fondasi yang kuat merupakan prasyarat utama untuk menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan dan menjadikan BNC menjadi bank berbasis digital yang semakin tepercaya,” jelas Eri dalam Media Gathering BNC di Jakarta, Jumat (31/7/2026).

Hingga akhir semester I-2026, total aset BNC mencapai Rp17,45 triliun, dengan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp12,3 triliun. Di tengah kondisi likuiditas industri perbankan yang ketat, BNC mampu menjaga likuiditas yang sehat melalui pengelolaan yang prudent dan terukur. Komposisi dana perseroan menunjukkan peningkatan dana tabungan menjadi Rp3,39 triliun, tumbuh 2,10% (yoy), menandakan kepercayaan nasabah yang terjaga.

Layanan QRIS BNC menunjukkan peningkatan signifikan dengan jumlah transaksi naik 124%, dari 119,3 juta kali pada semester I-2025 menjadi 267,4 juta kali pada semester I-2026. Pendapatan dari transaksi QRIS melonjak 246% menjadi Rp25,8 miliar.

Efisiensi operasional juga membaik dengan rasio BOPO menjadi 82,31% dari sebelumnya 84,81%. Rasio return on assets (ROA) meningkat menjadi 3,23% dari 3,09%, menunjukkan peningkatan kemampuan perseroan menghasilkan laba dari aset.

Kualitas aset BNC terjaga dengan rasio non performing loan (NPL) gross berhasil ditekan menjadi 2,99% dari 3,10% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Perbaikan ini didukung oleh penguatan tata kelola risiko, penyempurnaan proses underwriting digital, dan penerapan prinsip kehati-hatian.

Struktur permodalan BNC menguat seiring pertumbuhan laba. Capital adequacy ratio (CAR) meningkat signifikan menjadi 50,23% dari 41,27% pada paruh pertama 2025. Modal inti perseroan tumbuh 14,52% (yoy) menjadi Rp4,2 triliun, memberikan ruang ekspansi bisnis yang lebih besar.

Dalam penyaluran kredit, BNC menerapkan strategi pertumbuhan yang selektif. Total kredit tercatat Rp7,13 triliun, menurun 11,79% (yoy), terutama dari segmen komersial dan korporasi untuk optimalisasi portofolio dan peningkatan kualitas aset. Namun, segmen konsumer dan UMKM menunjukkan pertumbuhan gabungan 6,68% menjadi Rp5,80 triliun, menegaskan komitmen BNC pada segmen potensial dengan kualitas portofolio yang terjaga.