Detak Media — Bandara Husein Sastranegara di Bandung, Jawa Barat, dijadwalkan kembali melayani penerbangan komersial berjadwal mulai 17 September 2026. Reaktivasi ini diharapkan dapat meningkatkan jumlah wisatawan mancanegara (wisman) serta menggairahkan iklim investasi di Jawa Barat.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyatakan bahwa reaktivasi bandara ini merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Kota Bandung, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan pemerintah pusat. Saat ini, Pemkot Bandung tengah mempersiapkan infrastruktur pendukung dan program promosi pariwisata.
“Saya ingin ini menjadi sebuah pengalaman yang baik. Sejak awal kami bersama-sama memperjuangkan agar Bandara Husein bisa kembali beroperasi. Kami berbagi tugas dengan Pak Gubernur Dedi Mulyadi. Saya menjaga agar gagasan ini terus hidup. Sedangkan beliau melakukan komunikasi di tingkat pemerintah pusat,” ujar Farhan dalam keterangan rilisnya.
Upaya ini mendapatkan landasan hukum setelah terbitnya Instruksi Presiden pada 26 Mei 2026 yang mempercepat pengoperasian kembali Bandara Husein Sastranegara. Farhan menekankan pentingnya kesiapan Kota Bandung yang harus sejalan dengan kesiapan penerbangan demi kenyamanan penumpang.
“Jangan sampai penumpang yang datang atau akan berangkat merasa Bandung belum siap. Jangan sampai akses jalannya rusak, parkir tidak tertata, atau layanan transportasi belum memadai. Kesan pertama itu sangat penting,” tegasnya. Untuk itu, Farhan telah menginstruksikan Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Bandung untuk segera menyelesaikan perbaikan ruas jalan di sekitar bandara.
Pemkot Bandung juga berencana meluncurkan promosi wisata guna menarik pengunjung dan meningkatkan aktivitas ekonomi pasca-dibukanya kembali penerbangan komersial. Harga tiket pesawat yang dinilai masih tinggi menjadi tantangan, sehingga Bandung perlu menawarkan pengalaman wisata yang unik dan menarik.
“Kami bersama tim ekonomi dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata sedang mendesain berbagai bentuk promosi agar masyarakat memiliki alasan datang ke Bandung. Jadi bukan hanya terbang ke Bandung, tetapi mereka juga mendapatkan pengalaman wisata, kuliner, belanja, hingga berbagai kegiatan menarik yang hanya ada di Kota Bandung,” jelasnya. Promosi ini akan melibatkan berbagai elemen seperti pelaku pariwisata, ekonomi kreatif, dunia usaha, dan media untuk memastikan manfaat ekonomi dari reaktivasi bandara dirasakan secara luas oleh masyarakat.
Fokus Kertajati dan Peran Bandara Husein
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi optimistis pengoperasian kembali penerbangan komersial di Bandara Husein akan menarik wisatawan mancanegara, khususnya dari Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Ia memperkirakan penerbangan langsung ini akan memperpanjang durasi tinggal wisatawan, yang berdampak positif pada peningkatan aktivitas di sektor perhotelan, restoran, kuliner, dan jasa lainnya.
“Dengan adanya Bandara Husein, saya yakin wisatawan dari Malaysia, Singapura, dan Brunei akan kembali datang. Mereka akan lebih lama berada di Bandung, menikmati kuliner, berbelanja, menggunakan jasa perawatan, hingga menginap di hotel-hotel. Ini akan berdampak langsung terhadap peningkatan pendapatan sektor hotel dan restoran,” kata Dedi.
Lebih lanjut, Dedi menjelaskan bahwa Pemprov Jawa Barat bersama pemerintah pusat telah menyepakati arah pengembangan baru untuk Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati. Ke depan, Kertajati akan difokuskan sebagai pusat industri pertahanan dalam negeri untuk mendukung pengembangan industri strategis nasional. Pembagian peran ini menempatkan Bandara Husein Sastranegara sebagai penggerak konektivitas dan pariwisata, sementara Kertajati menjadi pusat industri pertahanan.
Analisis dan Persiapan Operasional
Analis penerbangan independen Gatot Rahardjo menyambut baik harapan peningkatan minat penumpang ke Bandung dan sekitarnya melalui Bandara Husein Sastranegara. Namun, ia mengingatkan bahwa masih ada pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan, terutama terkait kepadatan lalu lintas di sekitar bandara yang berada di tengah kota.
“Mengurai kepadatan di sekitar bandara tentu menjadi pekerjaan rumah ke depan sebab kepadatan arus lalu lintas kerap kali menimbulkan kemacetan panjang apa lagi jalur tersebut jalur keluar masuk dari arah Jakarta,” ujar Gatot.
Gatot juga menekankan pentingnya pemerintah untuk memperhatikan kawasan lain di Jawa Barat yang perlu dijangkau melalui transportasi udara. Hal ini mengingat Bandara Kertajati, yang sedianya diperuntukkan bagi wilayah Majalengka dan sekitarnya, masih sepi maskapai.
“Jangan hanya kawasan Bandung sekitarnya saja yang menjadi konsen. Bagaimana dengan kawasan lain di wilayah Jawa Barat? Artinya jika Kertajati masih sepi dari penerbangan reguler, harus ada terobosan menjangkau wilayah Majalengka, Cirebon dan sekitarnya,” tegasnya.
Sementara itu, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) pada 23 Juli 2026 telah menerbitkan Sertifikat Bandar Udara (SBU) Nomor: 005.1/SBU/VII/2026 bagi PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) Kantor Cabang Bandara Husein Sastranegara. Sertifikat ini menjadi syarat bagi bandara untuk dapat melayani operasional pesawat jet berbadan sedang (narrow body) sekelas Boeing 737-800.
Corporate Secretary Group Head PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) atau InJourney Airports, Arie Ahsanurrohim, menyatakan sertifikat tersebut juga mengonfirmasi bahwa Bandara Husein Sastranegara telah memenuhi fasilitas Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran (PKP-PK) Kategori 7. Ini merupakan kemajuan nyata dalam persiapan optimalisasi bandara.
“InJourney Airports memenuhi aspek kepatuhan dalam rangkaian optimalisasi Bandara Husein Sastranegara. Persiapan berjalan lancar, ditandai dengan diterbitkannya SBU Nomor: 005.1/SBU/VII/2026,” kata Arie. Persiapan yang dilakukan InJourney Airports meliputi pemenuhan aspek operasional, fasilitas, dan Sumber Daya Manusia (SDM) sesuai standar Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub. Perbaikan dilakukan pada runway, taxiway, dan apron untuk mendukung operasional pesawat jet narrow body.
Arie menambahkan, pihaknya juga telah merenovasi dan mempercantik terminal penumpang dengan konsep modern yang memadukan kearifan budaya Jawa Barat. Fasilitas umum seperti toilet, musholla, nursery room, dan area tunggu transportasi publik juga ditingkatkan. Di sisi udara (air side), dilakukan perbaikan fasad bangunan terminal dan instalasi taman. Salah satu fasilitas baru yang dihadirkan adalah area coworking space bagi penumpang.
Target Operasi September
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Lukman F. Laisa, sebelumnya menyatakan bahwa persiapan reaktivasi bandara, baik dari sisi udara (air side) maupun sisi darat (land side), telah berlangsung dalam dua hingga tiga minggu terakhir. Sesuai timeline yang disusun, seluruh kesiapan operasional untuk melayani pesawat jet ditargetkan rampung pada 17 September 2026.
“Reaktivasi Bandar Udara Husein Sastranegara akan dilaksanakan secara bertahap dengan mengedepankan prinsip keselamatan, keamanan, dan kepatuhan terhadap seluruh regulasi penerbangan sipil,” ujar Lukman.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.