Detak Media — Harga Bitcoin (BTC) dilaporkan mengalami penurunan menyusul insiden peretasan senilai USD 100 juta yang menargetkan salah satu penyedia dompet perangkat keras terkemuka. Peristiwa ini meredupkan optimisme investor jangka pendek yang sebelumnya memprediksi lonjakan harga Bitcoin.
Di tengah gejolak pasar dan prediksi terbaru dari Elon Musk, Bitcoin kini menghadapi ancaman yang lebih fundamental: perkembangan teknologi komputer kuantum. Teknologi ini berpotensi merusak keamanan kriptografi dalam tiga hingga empat tahun mendatang.
“Menurut saya, Anda harus memberi waktu tiga hingga empat tahun dari sekarang. Pada titik itu, saya akan mulai cukup paranoid mengenai hal ini,” ungkap CEO IBM Arvind Krishna mengenai ancaman komputer kuantum terhadap sistem pertahanan kriptografi.
Secara teori, pengembangan komputer kuantum berskala penuh dapat meretas kode tanda tangan digital yang melindungi dompet-dompet Bitcoin. Riset terbaru menunjukkan hampir 7 juta Bitcoin, bernilai sekitar US$ 500 miliar, berisiko jika pertahanan kriptografi berhasil ditembus.
Krishna menambahkan bahwa dampak pada industri perangkat lunak dan teknologi jaringan komputer akan mulai terlihat jelas sebelum akhir dekade ini. “Saya pikir pada 2028 atau 2029, Anda akan melihat dampaknya secara terukur pada pendapatan dan laba kami. Pada akhir 2030-an, kami cukup yakin nilainya akan mencapai triliunan dolar,” jelasnya.
Peringatan dari Peneliti Google dan Komunitas Kripto
Kekhawatiran mengenai ancaman komputer kuantum terhadap Bitcoin dan aset kripto mulai menguat sejak akhir 2025 dan semakin nyata pada Maret 2026.
Saat itu, peneliti dari Google mempublikasikan sebuah makalah ilmiah yang memperingatkan bahwa komputer kuantum di masa depan mungkin dapat membobol kriptografi yang melindungi Bitcoin dan aset digital lainnya dengan sumber daya yang lebih sedikit dari perkiraan sebelumnya.
“Kami mendesak seluruh komunitas kriptokurensi yang rentan untuk segera bergabung dalam migrasi menuju sistem pertahanan pasca-komputer kuantum (post-quantum computing) tanpa menunda-nunda,” tulis para peneliti Google. Dukungan serupa datang dari peneliti Ethereum Foundation, Justin Drake, serta Dan Boneh dari Stanford University.
Meskipun demikian, para peneliti mengonfirmasi bahwa teknologi saat ini belum mampu membobol kriptografi Bitcoin, namun mereka mengingatkan ancaman tersebut dapat terealisasi lebih cepat dari perkiraan awal.
Respons Pasar dan Fenomena “Inverse Cramer”
Meskipun percepatan jadwal komputer kuantum IBM dan peringatan dari Google telah memicu perdebatan mengenai kriptografi tahan kuantum (quantum-resistant cryptography), banyak trader Bitcoin justru menyambut gembira langkah Jim Cramer yang dikabarkan keluar dari investasi Bitcoin.
Di kalangan investor kripto, terdapat humor populer mengenai indikator “Inverse Cramer”, sebuah anggapan bernada kelakar bahwa pasar biasanya bergerak berlawanan dari saran atau tindakan Jim Cramer.
“Jika Cramer menjual, itulah saatnya untuk mulai membeli,” tulis Archie Spencer, pendiri Grit Trading Academy, di platform X. Pendapat serupa diutarakan investor kripto dengan nama akun Bitcoin & Barbells, “Setiap kali Cramer mengatakan jual, saya justru menambah posisi saya. Saya telah melakukannya sejak 2018. Indeks ‘Inverse Cramer’ belum pernah terkalahkan.”
Sejak diluncurkan oleh Satoshi Nakamoto pada 2009, keamanan jaringan Bitcoin sangat bergantung pada algoritma kriptografi kurva elips, yang dikenal sebagai ECDSA (Elliptic Curve Digital Signature Algorithm) dengan standar secp256k1. Algoritma ini dirancang agar hampir tidak mungkin ditembus oleh komputer konvensional, karena membutuhkan waktu jutaan tahun komputasi untuk meretas kunci privat (private key) dari sebuah kunci publik (public key).
Namun, kehadiran komputer kuantum membawa ancaman baru melalui penggunaan Algoritma Shor, sebuah metode kalkulasi matematis yang dapat menyelesaikan persoalan logaritma diskrit pada kurva elips jauh lebih cepat daripada komputer super biasa.
Apabila komputer kuantum dengan daya komputasi yang memadai berhasil diciptakan, fungsi perlindungan kunci privat pada dompet kripto yang aktif dapat diekspos dan diretas.
Sebagai langkah antisipasi, pengembang inti Bitcoin (Bitcoin Core developers) serta komunitas kripto global kini tengah mengkaji pengadopsian standar Kriptografi Pasca-Kuantum (Post-Quantum Cryptography/ PQC). Pembaruan sistem ini memerlukan konsensus global melalui proses soft fork atau hard fork untuk mengalihkan seluruh kode enkripsi Bitcoin ke algoritma baru yang kebal terhadap serangan komputasi kuantum sebelum teknologi tersebut resmi dioperasikan secara komersial.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.