Detak Media — PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA membukukan laba semester I-2026 yang sesuai ekspektasi pasar, dengan fundamental yang tetap solid. Kondisi ini memunculkan sejumlah target harga baru untuk saham BBCA, yang dinilai berada dalam valuasi terdiskon.
Pada semester pertama 2026, BCA mencetak pertumbuhan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk (PATMI) sebesar 1,8% secara tahunan (year-on-year/yoy). Pertumbuhan ini didukung oleh kenaikan pendapatan non-bunga sebesar 11% yoy dan kualitas aset yang terjaga.
Analis KB Valbury Sekuritas, Akhmad Nurcahyadi, menyatakan bahwa kinerja laba BCA sesuai dengan proyeksi mereka dan konsensus pasar, masing-masing mencapai 49% dan 47,9% dari estimasi laba setahun penuh 2026. Total kredit BBCA tumbuh 8% yoy, masih dalam kisaran panduan manajemen, sementara dana pihak ketiga (DPK) meningkat 7,9% yoy berkat pertumbuhan dana murah (current account savings account/CASA) yang solid sebesar 10,2% yoy.
Margin bunga bersih (net interest margin/NIM) tercatat sedikit melemah menjadi 5,3%, turun 50 basis poin (bps) secara tahunan dan 10 bps secara kuartalan, terutama akibat penurunan imbal hasil kredit. Meskipun demikian, realisasi NIM ini semakin mendekati batas bawah panduan manajemen untuk 2026 yang berada pada kisaran 5,4%-5,6%.
Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) menunjukkan perbaikan, turun 0,3 poin persentase dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Tingkat pencadangan terhadap kredit bermasalah (NPL coverage) juga tetap kuat di angka 165,5%. KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham BBCA dengan target harga Rp 9.480, didasari pada valuasi price to book value (P/B) sebesar 3,8 kali untuk proyeksi 2026, sementara saham BBCA saat ini diperdagangkan pada valuasi P/B 2026 sebesar 2,5 kali.
“Kami menilai tekanan pada harga saham BBCA belakangan ini justru menciptakan titik masuk investasi yang menarik, karena valuasinya telah diperdagangkan dengan diskon yang cukup dalam,” ujar Akhmad.
Target Harga Lainnya
MNC Sekuritas juga mempertahankan rekomendasi beli saham BCA (BBCA) dengan target harga Rp 8.700. Target ini mencerminkan rasio price to book value (PBV) sebesar 3,4 kali untuk estimasi tahun 2026 dan 3 kali untuk estimasi tahun 2027. Analis MNC Sekuritas, Victoria Venny, mencatat bahwa kinerja BBCA semester I-2026 sesuai ekspektasi, namun NIM masih tertekan.
Manajemen BBCA tetap mempertahankan panduan NIM tahun 2026 pada kisaran 5,4%-5,6%. Pemulihan NIM diperkirakan berasal dari penyesuaian harga bunga kredit korporasi, peningkatan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), serta kontribusi kredit korporasi yang lebih besar.
Sementara itu, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham BBCA, namun menurunkan target harga saham BBCA menjadi Rp 8.600 dari sebelumnya Rp 10.900. Penurunan target harga ini dilakukan setelah BRI Danareksa Sekuritas mengubah asumsi Cost of Equity (CoE) dari rata-rata 7% menjadi minus satu standar deviasi (-1SD) sebesar 8%, mencerminkan kenaikan tingkat imbal hasil bebas risiko. Penyesuaian ini menghasilkan nilai wajar rasio harga terhadap nilai buku (fair value price to book value/FV PBV) sebesar 3,5 kali.
Untuk pandangan taktis tiga bulan, BRI Danareksa Sekuritas menetapkan posisi overweight. Meskipun masih terdapat tekanan akibat risiko negara dan berlanjutnya arus keluar dana investor asing, BRI Danareksa Sekuritas melihat potensi penurunan valuasi relatif terbatas.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.