Detak Media — PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR), emiten yang bergerak di sektor bus listrik di bawah Grup Bakrie, melaporkan pertumbuhan laba bersih pada semester I-2026. Namun, analisis lebih mendalam menunjukkan bahwa mayoritas laba tersebut mengalir kepada pihak non-pengendali, bukan kepada pemilik entitas induk.
Fenomena ini menarik untuk diidentifikasi penyebabnya. Diduga, aliran mayoritas laba VKTR dipengaruhi oleh struktur kepemilikan saham perseroan terhadap entitas-entitas anaknya yang berperan sebagai sumber pendapatan utama bisnis perusahaan.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian VKTR yang berakhir pada 30 Juni 2026, terdapat tiga entitas anak di mana VKTR tidak memiliki kepemilikan saham penuh. Ketiga entitas tersebut adalah PT VKTR Sakti Industries (VSI) yang bergerak di sektor perakitan kendaraan bermotor, PT Sarana Ekomobilitas Indonesia (SEI) yang berbisnis di perdagangan besar dan penyewaan kendaraan bermotor, serta PT Braja Mukti Cakra (BMC) yang bergerak di industri suku cadang dan aksesoris kendaraan.
VKTR menggenggam 60% saham di VSI. Sementara itu, kepemilikan saham di SEI mengalami peningkatan signifikan dari 51% pada 31 Desember 2025 menjadi 99,99% pada 30 Juni 2026. Di BMC, kepemilikan VKTR bersifat tidak langsung melalui anak usaha PT Bakrie Autoparts (BA) dengan porsi 50% saham hingga 30 Juni 2026.
Meskipun VKTR menjadi pemegang saham mayoritas di VSI dan SEI, porsi kepentingan non-pengendali (non-controlling interest/NCI) tetap signifikan. Di VSI, NCI mencapai 40%, sedangkan di BMC, kepemilikan NCI setara dengan VKTR sebesar 50%. Hal ini berarti separuh laba BMC secara otomatis menjadi hak NCI dan tidak masuk ke dalam porsi laba VKTR selaku entitas induk.
Pada periode Januari-Juni 2026, VKTR membukukan total laba bersih sebesar Rp10 miliar. Dari jumlah tersebut, Rp1,12 miliar diatribusikan kepada pemilik entitas induk, sementara Rp8,95 miliar atau hampir 90% dari total laba bersih dialokasikan kepada kepentingan non-pengendali.
Pertumbuhan laba bersih VKTR ini sejalan dengan peningkatan penjualan bersih perseroan dari Rp414 miliar menjadi Rp646 miliar pada semester I-2026. Kontribusi terbesar datang dari penjualan komponen suku cadang dan besi bekas kepada pihak ketiga yang mencapai Rp533 miliar, meningkat dari Rp410 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Selain itu, penjualan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai kepada pihak ketiga juga meningkat signifikan menjadi Rp114 miliar, naik drastis dari Rp6,11 miliar pada semester I-2025.
Mitra penjualan VKTR meliputi PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors, PT Mitsubishi Motor Krama Yudha Indonesia, Perum Damri, dan PT Hino Motors Manufacturing Indonesia. Peningkatan penjualan ini turut mendongkrak beban pokok menjadi Rp534 miliar dari sebelumnya Rp334 miliar pada semester I-2026. Akibatnya, laba kotor perseroan melonjak tajam dari Rp80 miliar menjadi Rp112 miliar pada semester I-2026, dengan laba usaha tercatat sebesar Rp16 miliar, dibandingkan Rp807 juta pada periode sebelumnya.
Dari sisi neraca keuangan, total ekuitas VKTR menguat menjadi Rp1,25 triliun, naik dari Rp1,24 triliun per 30 Juni 2025. Liabilitas juga mengalami peningkatan dari Rp553 miliar menjadi Rp588 miliar per 30 Juni 2026, terdiri dari liabilitas jangka pendek sebesar Rp357 miliar dan liabilitas jangka panjang sebesar Rp231 miliar.
Total aset VKTR tercatat menguat dari Rp1,79 triliun menjadi Rp1,84 triliun per 30 Juni 2026. Kas dan setara kas perusahaan pada akhir periode juga menunjukkan pertumbuhan, mencapai Rp38,28 miliar per 30 Juni 2026, dibandingkan dengan Rp26,24 miliar per 30 Juni 2024.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.