— JAKARTA – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) telah berhasil memulihkan akses Jalan Nasional Lembah Anai di Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat, yang sempat terputus akibat tanah longsor. Jalan yang menghubungkan Padang dan Bukittinggi ini merupakan jalur vital yang terdampak pada ruas Batas Kota Padang Panjang – Sicincin (N.040) KM 66+700.

Menteri PU, Dody Hanggodo, menyatakan bahwa kesiapsiagaan infrastruktur dan sumber daya Kementerian PU menjadi kunci dalam penanganan bencana. “Kementerian PU mengerahkan personel dan peralatan agar dampak bencana terhadap masyarakat dapat diminimalkan. Prioritas utama adalah memulihkan akses masyarakat, memperbaiki tanggul yang jebol, dan memastikan aliran sungai kembali lancar sehingga risiko banjir susulan dapat ditekan,” kata Menteri Dody dalam keterangan rilisnya.

Longsor terjadi pada Kamis (30/7) sekitar pukul 19.45 WIB setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut. Material batuan dari lereng atas menutup badan jalan, menyebabkan akses tidak dapat dilalui.

Menanggapi kejadian tersebut, Kementerian PU melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumatra Barat segera melakukan penanganan darurat. Alat berat dikerahkan untuk membersihkan material longsor dan mengatur lalu lintas. Pekerjaan intensif dilakukan hingga Jumat (31/7) pukul 03.15 WIB, yang akhirnya berhasil memulihkan akses jalan dua arah.

Kecepatan penanganan ini memastikan aktivitas masyarakat dan distribusi barang kembali normal dalam waktu singkat, menegaskan komitmen Kementerian PU dalam menjaga konektivitas nasional dan keselamatan masyarakat, terutama di daerah rawan bencana.

Penanganan Pascabencana Lembah Anai

Sebelumnya, Kementerian PU juga telah merampungkan penanganan permanen pascabencana banjir bandang dan tanah longsor di Ruas Jalan Nasional Padang Panjang–Sicincin, kawasan Lembah Anai, yang terjadi pada November 2025. Penanganan ini berhasil memulihkan konektivitas jalur utama Padang–Bukittinggi.

Menurut Dody, ruas Lembah Anai telah kembali fungsional sejak 16 Desember 2025 dan penanganan permanennya selesai sesuai target pada Juli 2026. “Akses jalan dan jembatan adalah kunci utama pergerakan logistik, pelayanan darurat, dan pemulihan ekonomi masyarakat. Karena itu, sejak awal kami bekerja tanpa jeda untuk memastikan keterisolasian wilayah bisa ditangani secepat mungkin. Keselamatan masyarakat dan kelancaran mobilitas menjadi prioritas kami,” jelasnya.

Pekerjaan yang dimulai pada 28 November 2025 ini mencakup perbaikan badan jalan, pengamanan lereng, penguatan tebing sungai, pembangunan drainase, penanganan Jembatan Margayasa, serta konstruksi permanen. Nilai kontrak untuk penanganan permanen ini mencapai Rp460,11 miliar.

“Kalau kita menangani jalannya, tebingnya juga wajib ditangani. Kalau tidak, jalannya tidak akan bertahan lama. Karena itu seluruh penanganan di kawasan ini dilakukan secara permanen agar lebih aman dan berkelanjutan,” tegasnya.

Bencana sebelumnya menyebabkan 1 titik badan jalan terputus, 19 titik longsor, dan kerusakan pada 2 jembatan di ruas KM 61+600 hingga KM 67+400. Terputusnya ruas ini sempat memaksa arus lalu lintas dialihkan melalui Sitinjau Lauik.

Azraul Riski, warga Kabupaten Padang Pariaman, mengaku bersyukur atas pemulihan akses ini. “Alhamdulillah jalan ini sudah selesai diperbaiki sehingga perjalanan kami untuk bekerja menjadi lebih lancar. Terima kasih kepada para pekerja, Bapak Menteri PU Dody Hanggodo, Bapak Menko Infrastruktur AHY, dan Bapak Presiden Prabowo Subianto atas perhatian terhadap pemulihan akses masyarakat,” ujarnya.