Detak Media — JAKARTA – PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP) menghadapi tantangan likuiditas yang berujung pada penundaan serah terima unit properti berkonsep Transit Oriented Development (TOD) yang sedang dikembangkan. Kondisi ini berdampak pada kelancaran penyelesaian proyek.
Anak usaha PT Adhi Karya Tbk (ADHI) ini mengelola 13 proyek. Enam di antaranya telah selesai dan beroperasi, meliputi empat apartemen, satu landed house, dan satu office tower. Sisa proyek lainnya masih dalam tahap pembangunan.
Direktur Portofolio Bisnis & Risiko merangkap Sekretaris Perusahaan Adhi Karya, Rozi Sparta, mengakui adanya tantangan likuiditas yang memengaruhi penyelesaian proyek ADCP. “ADCP menyampaikan permohonan maaf kepada para konsumen atas keterlambatan penyelesaian kewajiban serah terima unit,” ujar Rozi dalam penjelasan resmi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (29/7/2026).
Sebagai bentuk komitmen, ADCP menawarkan beberapa alternatif penyelesaian kepada konsumen. Opsi tersebut mencakup relokasi unit dan skema pinjam pakai sementara pada unit yang sudah siap stok. Selain itu, ADCP juga tengah menjajaki kerja sama dengan investor dan kontraktor strategis untuk mempercepat penyelesaian proyek dan memenuhi kewajiban kepada konsumen secara bertahap.
Pengembang properti berbasis TOD seperti ADCP memiliki kewajiban menyediakan kawasan lahan di sekitar stasiun transportasi umum, termasuk fasilitas infrastruktur pendukung. Pengembangan hunian dikerjakan secara bertahap sesuai rencana.
Kondisi pasar properti yang belum sepenuhnya pulih dalam beberapa tahun terakhir turut memengaruhi tingkat penjualan produk, penerimaan kas, dan kemampuan ADCP dalam menuntaskan proyek. Hingga kini, dari total 9.839 unit hunian yang digarap ADCP, sebanyak 5.392 unit telah terjual. Dari jumlah tersebut, 2.575 unit telah diserahterimakan kepada konsumen.
Dalam strategi diversifikasi portofolio, ADCP tidak hanya berfokus pada penjualan unit hunian. Perusahaan juga mengembangkan dan mengoperasikan aset komersial yang menghasilkan pendapatan berulang (recurring income). Contohnya adalah pengembangan gedung perkantoran Office MTH 27 di Jakarta Timur seluas 12.546 m2, serta pengoperasian area komersial di kawasan TOD seperti Cisauk Point, Eastern Green, dan MTH 27.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.