— BOGOR – Kementerian Transmigrasi (Kementrans) RI telah membekali 1.476 akademisi yang tergabung dalam Tim Ekspedisi Patriot 2026 di Bogor, Jawa Barat. Kegiatan ini merupakan bagian dari persiapan tim sebelum mereka terjun ke kawasan transmigrasi untuk melakukan riset, kajian, dan pendampingan masyarakat.

Pembekalan yang dilaksanakan pada Sabtu (25/07/2026) ini memfokuskan pada perubahan paradigma pembangunan transmigrasi. Pendekatan baru ini tidak hanya berorientasi pada perpindahan penduduk, tetapi juga menekankan pada pengembangan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di wilayah tersebut.

Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Sjarief Widjaja, menekankan pentingnya mengarahkan kawasan transmigrasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. “Kita semua berada dalam satu perahu untuk membangun peradaban. Kata kuncinya adalah membangun kegiatan ekonomi dan mengubah kawasan transmigrasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Menurut Sjarief, pembangunan kawasan transmigrasi memerlukan kolaborasi erat antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat setempat. Ia menambahkan bahwa keberhasilan program ini bergantung pada sinergi berbagai pemangku kepentingan.

Senada dengan itu, Guru Besar IPB University, M. Faiz Syuaib, menjelaskan bahwa transmigrasi memiliki dimensi yang lebih kompleks daripada sekadar pemindahan fisik. “Memindahkan orang tidak sama dengan memindahkan barang. Ketika orang berpindah, kehidupan, budaya, pola pikir, dan kebiasaannya juga ikut berpindah,” jelasnya.

Oleh karena itu, Faiz mengingatkan anggota Tim Ekspedisi Patriot agar menjadikan kepentingan masyarakat sebagai prioritas utama dalam menjalankan tugas di lapangan. “Patriot adalah pelopor. Cara berpikirnya memberi dan melakukan sesuatu untuk orang lain, bukan mencari atau mengambil keuntungan bagi diri sendiri,” katanya.

Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM), Irfan Dwidya Prijambada, turut berpesan kepada para peserta agar tidak bekerja secara individual. Ia mendorong tim untuk melibatkan masyarakat lokal dan mengidentifikasi tokoh serta sumber daya manusia yang potensial untuk menjadi penggerak pembangunan daerah. “Saya tidak berharap kita datang sebagai Superman. Kita harus membangun sumber daya manusia dari potensi yang ada dan mengajak masyarakat lokal menjadi local champion,” ungkapnya.

Melalui pembekalan ini, Kementerian Transmigrasi berharap Tim Ekspedisi Patriot 2026 mampu menghasilkan pemetaan potensi yang akurat, memberikan rekomendasi pembangunan yang tepat sasaran, serta merumuskan model pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat di kawasan transmigrasi.