Detak Media — JAKARTA – PT Singaraja Putra Tbk (SINI) memberikan penjelasan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) mengenai estimasi pendapatan dari perjanjian jasa pertambangan batu bara dengan PT Petrosea Tbk (PTRO). Penjelasan ini menyusul permintaan klarifikasi dari BEI terkait keterbukaan informasi mengenai penandatanganan perjanjian tersebut.
BEI meminta rincian mengenai estimasi first cut untuk masing-masing tambang milik PT Pesona Bara Cakrawala (PBC) dan PT Cakrawala Bara Persada (CBP). Direktur Utama Singaraja Putra, Amir Antolis, menjelaskan bahwa kegiatan first cut untuk PBC diharapkan dapat dilaksanakan pada kuartal IV-2026, sementara untuk CBP dijadwalkan pada semester II-2027.
Jadwal tersebut bergantung pada selesainya pembangunan akses jalan ke CBP dan pengesahan pengajuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2027. Perjanjian jasa pertambangan antara Petrosea, PBC, dan CBP mencakup pekerjaan pengupasan lapisan penutup serta penggalian batu bara di Kalimantan Tengah untuk jangka waktu sepanjang umur tambang atau life of mine.
Untuk PBC, estimasi produksi batu bara mencapai 42 juta ton dengan pengupasan lapisan tanah penutup sebanyak 189 juta BCM. Total estimasi pendapatan atau omzet yang diproyeksikan adalah sebesar US$ 2,604 miliar, setara dengan Rp 45,570 triliun, dengan asumsi harga batu bara GAR 4200 sepanjang masa kontrak.
Sementara itu, CBP diperkirakan memproduksi 8 juta ton batu bara dari pengupasan 40 juta BCM lapisan penutup. Estimasi total pendapatan dari CBP adalah US$ 656 juta, setara dengan Rp 11,480 triliun, dengan asumsi batu bara berkalori GAR 5000. Secara keseluruhan, estimasi total pendapatan dari kedua tambang ini mencapai Rp 57,05 triliun.
Menanggapi pertanyaan BEI mengenai basis perhitungan estimasi pendapatan, Amir Antolis menyatakan bahwa perhitungan tersebut menggunakan asumsi harga pasar batu bara berdasarkan ICI (Indonesian Coal Index) yang disesuaikan dengan kualitasnya. Proyeksi harga jual yang digunakan adalah US$ 62 per ton untuk PBC dan US$ 82 per ton untuk CBP.
Kesiapan Infrastruktur dan Lahan
BEI juga menanyakan kesiapan infrastruktur pendukung seperti hauling, pelabuhan/jetty, dan stockpile untuk mendukung target produksi PBC dan CBP. Amir Antolis memaparkan bahwa progres jalan angkut (hauling road) menuju CBP telah mencapai 83,74% dan ditargetkan selesai pada Februari 2027. Untuk jalan menuju PBC, tahap surfacing sedang berjalan dan telah selesai.
Fasilitas pelabuhan dan stockpile akan menggunakan fasilitas pihak ketiga yang dinilai memiliki kapasitas memadai sesuai rencana produksi kedua tambang. Terkait pembebasan lahan, proses masih berlangsung sesuai tahapan yang direncanakan. Kendala utama yang dihadapi meliputi klaim tumpang tindih kepemilikan lahan, negosiasi dengan pemilik, serta proses verifikasi legalitas yang memakan waktu.
Hingga saat ini, progres pembebasan lahan mencapai sekitar 45% untuk PBC dan 15% untuk CBP. Amir juga mengonfirmasi bahwa belum ada kontrak penjualan yang ditandatangani, namun perseroan sedang menjajaki potensi kerja sama dengan beberapa pembeli yang memiliki pengalaman di industri terkait.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.