— JAKARTA – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalami penurunan 0,77% ke level Rp 6.450 pada perdagangan Rabu, 5 Agustus 2026. Fenomena ini diikuti oleh aksi jual bersih (net sell) investor asing senilai Rp 34,53 miliar pada saham perbankan tersebut.

Sebanyak 101,67 juta saham BBCA diperdagangkan dengan frekuensi mencapai 20.695 kali, menghasilkan total nilai transaksi sebesar Rp 655,92 miliar. Perubahan arah pergerakan saham BBCA ini terjadi setelah pada hari sebelumnya, Selasa, 4 Agustus 2026, saham ini sempat melompat 3,17% didorong oleh aksi beli bersih (net buy) investor asing senilai Rp 404,43 miliar.

Di tengah fluktuasi tersebut, Maybank Sekuritas dalam analisisnya pada 5 Agustus 2026 menyatakan bahwa saham BBCA cenderung mengalami penguatan dan berhasil menembus level resistance di 6.400. Analis memprediksi kenaikan lanjutan akan menguji level tertinggi sebelumnya di 6.550 hingga 6.625. Jika level ini terlewati, potensi reli lanjutan menuju target pola cup with handle pattern di 7.725 dan inverted head and shoulders pattern di 8.500 akan terbuka.

Maybank Sekuritas menambahkan bahwa BBCA berpotensi membentuk wave 3 dengan target di 8.325, dengan titik stoploss di bawah 5.975. Rekomendasi dari Maybank Sekuritas adalah akumulasi saham BBCA dengan jangka waktu perhitungan 1 hingga 20 hari.

Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) diproyeksikan masih mampu mencetak laba bersih sebesar Rp 29,55 triliun pada semester I-2026. Angka ini menunjukkan peningkatan 1,8% dan setara dengan 48% dari estimasi laba bersih setahun penuh yang diprediksi oleh Phintraco Sekuritas. Meskipun demikian, Phintraco Sekuritas memangkas target harga saham BBCA, namun tetap memandang positif kinerja perseroan.

Berdasarkan riset Phintraco, pertumbuhan laba yang relatif moderat mencerminkan ketahanan kinerja di tengah persaingan likuiditas yang masih ketat dan normalisasi suku bunga. Kinerja positif ini didukung oleh pendapatan bunga yang meningkat 1% menjadi Rp 49,86 triliun. Meskipun net interest income (NII) relatif stabil akibat kenaikan beban bunga sebesar 7,8%, BBCA tetap mampu mempertahankan kualitas profitabilitasnya.

BBCA berhasil mempertahankan Net Interest Margin (NIM) sebesar 5,4%, didukung oleh credit cost yang tetap rendah di kisaran 0,4%. Hal ini menegaskan posisi perseroan sebagai salah satu bank dengan profil risiko paling defensif di industri perbankan.

Laba dan Target Harga Direvisi Turun

Phintraco Sekuritas merevisi turun estimasi laba bersih BBCA untuk tahun 2026 dan 2027 menjadi masing-masing Rp 59,11 triliun dan Rp 65,41 triliun. Revisi ini mencerminkan proyeksi pertumbuhan kredit yang lebih moderat dibandingkan estimasi sebelumnya.

Namun demikian, Phintraco Sekuritas memperkirakan NIM BBCA akan tetap relatif terjaga, didukung oleh dominasi dana murah (Current Account Savings Account/CASA) yang kuat. Phintraco masih mempertahankan rekomendasi buy untuk saham BBCA dengan harga wajar (fair value) sebesar Rp 7.800, yang merupakan penurunan signifikan dari target sebelumnya Rp 10.075. Penilaian ini didasarkan pada metode Dividend Discount Model (DDM), serta didukung oleh Price to Book Value (PBV) saat ini yang masih berada di bawah minus dua standar deviasi (SD) rata-rata lima tahun, yaitu sebesar 3,07 kali.