— Perusahaan teknologi perhotelan RedDoorz memperkuat ekspansi bisnis akomodasi di Yogyakarta seiring naiknya permintaan penginapan terjangkau dan mudah diakses. Perusahaan menilai Yogyakarta tetap menjadi destinasi favorit wisatawan domestik, terutama generasi milenial dan Gen Z yang selektif memilih pengalaman perjalanan.

General Manager Area East & Bali RedDoorz, Ovaldo Sanjaya, menyatakan Yogyakarta menarik karena gabungan budaya, sejarah, kuliner, dan kehidupan lokal dengan biaya perjalanan relatif terjangkau. Posisi strategis di tengah Pulau Jawa dan akses transportasi yang beragam turut mendukung kunjungan wisatawan.

Berdasarkan data yang dikutip perusahaan, sepanjang 2025 terjadi 40,6 juta pergerakan wisatawan nusantara dan 102.817 kunjungan wisatawan mancanegara ke Provinsi DI Yogyakarta. Tren berlanjut pada kuartal I-2026 dengan 10,4 juta kunjungan wisatawan nusantara, naik dari 10,2 juta pada periode sama tahun sebelumnya.

Ovaldo menyebut Yogyakarta sebagai salah satu pasar penting bagi RedDoorz. Saat ini jaringan perusahaan di provinsi itu mencakup lebih dari 350 mitra properti dengan sekitar 5.300 kamar yang beroperasi di beberapa brand, termasuk RedDoorz, Sans, UrbanView, dan The Lavana.

Sepanjang 2025, Yogyakarta masuk kategori tier-1 bagi RedDoorz dengan lebih dari 445.000 pemesanan dan penjualan kamar mencapai sekitar 702.000 kamar. Dari 2023 hingga 2025, pemesanan meningkat hampir 12%, dengan kontribusi terbesar dari Kota Yogyakarta, diikuti Sleman dan Bantul.

Perubahan Perilaku Wisatawan

Perusahaan mencatat pergeseran preferensi di kalangan Gen Z dan milenial. Wisatawan Gen Z lebih aktif melakukan riset — membandingkan ulasan, aksesibilitas, harga, dan tampilan visual properti di platform seperti TikTok dan Instagram. Sementara milenial lebih mempertimbangkan kenyamanan, fasilitas, lokasi strategis, dan pengalaman praktis untuk keluarga atau kelompok.

Strategi Multi-Brand

Untuk merespons keragaman kebutuhan pasar, RedDoorz menegaskan strategi multi-brand di Yogyakarta. Melalui Sans dan UrbanView, perusahaan menyasar segmen mulai dari pencari harga terjangkau hingga wisatawan yang menginginkan pengalaman menginap lebih modern dan estetik.

Dalam paparan perusahaan, Sans Hotel menjadi brand dengan tingkat okupansi tertinggi pada 2025, yaitu 1,3 kali rata-rata hotel lain di Kota Yogyakarta. Salah satu contoh properti pada jaringan ini adalah Sans Hotel Nagari Malioboro.

Pemilik Sans Hotel Nagari Malioboro, Puspita Melati, menyatakan tingkat hunian meningkat sejak bermitra dengan RedDoorz. “Sebelum dikelola langsung bersama RedDoorz, rata-rata tingkat hunian properti kami berada di kisaran 40%. Kini, angka tersebut meningkat menjadi sekitar 75% Hal ini berkat dukungan keahlian operasional dari RedDoorz,” kata Puspita.

Hingga Juni 2026, RedDoorz mengelola langsung 18 properti mitra di Yogyakarta. Pada 2025, properti yang dikelola langsung mencatat penjualan hampir 43.000 kamar, sementara hingga Juli 2026 penjualan dari properti tersebut mencapai sekitar 16.000 kamar. Pendapatan dari properti yang dikelola langsung disebut meningkat hingga tiga kali lipat.

Perusahaan menargetkan menambah sekitar 96 properti baru di Yogyakarta sepanjang 2026, termasuk pengembangan portofolio company-operated dan penguatan strategi multi-brand. “Melalui strategi multi-brand, kami ingin memastikan RedDoorz dapat terus menjawab perubahan kebutuhan wisatawan saat ini sekaligus membantu pemilik properti meningkatkan performa bisnis mereka secara lebih berkelanjutan,” ujar Ovaldo.

Kolaborasi Dengan Ekosistem Lokal

Selain memperluas jaringan akomodasi, RedDoorz mengembangkan kerja sama yang berkaitan dengan ekosistem pariwisata dan ekonomi kreatif. Head of Government Relations RedDoorz, Gusti Raganata, menyatakan perusahaan menjajaki program yang melibatkan pelaku ekonomi lokal.

Salah satu inisiatif adalah proyek Sastagara, sebuah program percontohan yang melibatkan komunitas dan pelaku fesyen lokal di Yogyakarta untuk berjualan selama bulan Ramadan. “Harapannya, program seperti ini bisa berkembang tidak hanya di properti leasing, tetapi juga di properti owner yang tertarik mencoba konsep kreatif,” ujar Gusti.

Perusahaan juga menyiapkan program lain seperti Kids Corner, thematic room, dan pengembangan peluang sport tourism, yang diarahkan mendukung ekosistem pariwisata lebih luas, bukan hanya layanan akomodasi. Gusti menambahkan RedDoorz berupaya memastikan properti yang dikelola memenuhi aspek kepatuhan, termasuk perizinan dan kewajiban pajak.

Dari pihak pemerintah daerah, perwakilan Dinas Pariwisata DIY, Elia Fiani, menyatakan potensi Yogyakarta besar dari sisi budaya, sejarah, dan alam. Pengembangan diarahkan pada penguatan destinasi berbasis budaya dan kearifan lokal, digitalisasi promosi, kemitraan dengan sektor swasta, serta pemberdayaan masyarakat.

Elia menekankan pentingnya kolaborasi pemerintah, swasta, media, dan masyarakat untuk menjadikan Yogyakarta sebagai destinasi wisata unggulan yang berkelanjutan. Kemitraan dengan pelaku usaha akomodasi diharapkan memperluas pilihan penginapan bagi wisatawan sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal.