Detak Media — JAKARTA – PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) berhasil mencatat laba bersih sebesar Rp29,55 triliun pada paruh pertama tahun 2026. Angka ini menunjukkan peningkatan 1,8% dibandingkan periode sebelumnya dan setara dengan 48% dari estimasi laba bersih setahun penuh yang diproyeksikan oleh Phintraco Sekuritas. Meskipun demikian, Phintraco Sekuritas memutuskan untuk memangkas target harga saham BBCA, meskipun masih memandang positif terhadap emiten perbankan ini.
Menurut riset Phintraco, pertumbuhan laba yang relatif moderat ini menjadi cerminan ketahanan kinerja BBCA di tengah persaingan likuiditas yang masih ketat serta normalisasi suku bunga yang terjadi. Kinerja positif tersebut ditopang oleh peningkatan pendapatan bunga sebesar 1% yang mencapai Rp49,86 triliun. Meskipun demikian, pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) tercatat relatif stabil. Hal ini disebabkan oleh adanya kenaikan beban bunga yang mencapai 7,8%.
“Di sisi lain, BBCA tetap mampu mempertahankan kualitas profitabilitasnya dengan net interest margin (NIM) sebesar 5,4%. Hal ini didukung oleh credit cost yang tetap rendah di kisaran 0,4%, menegaskan posisi perseroan sebagai salah satu bank dengan profil risiko paling defensif di industri,” tulis Phintraco dalam laporannya, Senin (3/8/2026).
Laba dan Target Harga Dipangkas
Dalam analisis terbarunya, Phintraco Sekuritas merevisi turun estimasi laba bersih BBCA untuk tahun 2026 dan 2027. Masing-masing diproyeksikan menjadi Rp59,11 triliun dan Rp65,41 triliun. Revisi ini mencerminkan proyeksi pertumbuhan kredit yang lebih moderat dibandingkan dengan estimasi sebelumnya.
Meskipun demikian, Phintraco memperkirakan NIM BBCA akan tetap relatif terjaga. Hal ini didukung oleh dominasi dana murah atau current account savings account (CASA) yang kuat dimiliki oleh BBCA.
Phintraco masih mempertahankan rekomendasi buy untuk saham BBCA. Namun, mereka menurunkan target harga wajar atau fair value menjadi Rp7.800, angka yang jauh lebih rendah dari sebelumnya Rp10.075. Penilaian ini didasarkan pada metode dividend discount model (DDM) dan didukung oleh rasio price to book value (PBV) saat ini yang masih berada di bawah rata-rata dua standar deviasi (-2 SD) selama lima tahun terakhir, yakni sebesar 3,07 kali.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.