Detak.media — Final Piala Dunia 2026 dipastikan akan menyajikan duel sarat gengsi antara Argentina dan Spanyol di MetLife Stadium, New Jersey. Pertandingan yang dijadwalkan berlangsung pada Senin (20/7) dini hari waktu Indonesia ini tidak hanya memperebutkan trofi paling prestisius sepak bola, tetapi juga menjadi panggung penting bagi Lionel Messi yang berambisi mengakhiri karier Piala Dunia dengan gelar kedua.
Laga ini mempertemukan dua tim juara benua yang sebelumnya sempat dijadwalkan bertanding di ajang Finalissima awal tahun ini. Namun, pertemuan tersebut urung terlaksana akibat situasi konflik yang memanas di Timur Tengah.
Argentina, yang berstatus sebagai juara bertahan Piala Dunia 2022, melangkah ke final dengan perjalanan yang tidak mudah. Tim asuhan Lionel Scaloni ini harus melalui laga-laga ketat, termasuk pertandingan perpanjangan waktu melawan Tanjung Verde dan kemenangan atas Mesir, Swiss, serta Inggris di babak sebelumnya.
Di usianya yang ke-39 tahun, Lionel Messi masih menjadi tulang punggung permainan Argentina. Ia terus menunjukkan kualitasnya melalui gol, assist, dan berbagai aksi brilian yang kembali menempatkannya di pusat perhatian dalam perdebatan status pemain terbaik sepanjang masa.
Sementara itu, Spanyol menunjukkan performa yang jauh lebih meyakinkan dalam perjalanannya menuju final. Tim asuhan Luis de la Fuente ini belum terkalahkan dalam 37 pertandingan terakhirnya dan berpeluang besar meraih gelar Piala Dunia kedua mereka, setelah terakhir kali menjadi juara pada edisi 2010.
Sebagai juara Eropa, Spanyol tampil konsisten sepanjang turnamen dengan mengandalkan penguasaan bola, umpan-umpan pendek, dan organisasi tim yang solid. Filosofi permainan yang telah dibangun De la Fuente sejak menangani tim muda membuahkan hasil dengan tim yang matang.
Salah satu daya tarik utama final ini adalah potensi pertemuan antara Lionel Messi dan Lamine Yamal. Pemain muda berusia 19 tahun ini disebut-sebut sebagai penerus Messi di akademi La Masia Barcelona. Lamine telah mencuri perhatian sejak debutnya di tim utama Barcelona pada usia 15 tahun dan menjadi salah satu pemain paling berbahaya di Piala Dunia 2026.
Pertemuan keduanya juga menghidupkan kembali sebuah foto viral yang menampilkan Messi muda sedang memandikan bayi Lamine dalam sebuah sesi pemotretan Barcelona. Momen tersebut kini dianggap sebagai salah satu kisah paling unik dalam sejarah sepak bola. Menariknya, ayah Lamine pernah bercanda bahwa bakat putranya tidak diturunkan dari Messi, melainkan bisa jadi sebaliknya.
Final ini juga akan mempertemukan Lionel Scaloni dengan Luis de la Fuente, yang memiliki hubungan unik. Hampir satu dekade lalu, De la Fuente pernah menjadi instruktur bagi Scaloni dalam kursus kepelatihan di Federasi Sepak Bola Spanyol. Kini, murid dan guru tersebut akan saling berhadapan untuk memperebutkan trofi paling bergengsi di dunia sepak bola.
Pertandingan final diperkirakan akan berlangsung dalam kondisi yang kurang ideal. Rumput di MetLife Stadium telah mendapat banyak kritik sepanjang turnamen karena dinilai menyulitkan tim yang mengandalkan permainan umpan pendek, seperti Spanyol. Selain itu, suhu udara diperkirakan mencapai sekitar 30 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan tinggi. Asap kebakaran hutan dari Kanada juga sempat menyelimuti sebagian wilayah timur laut Amerika Serikat, menimbulkan kekhawatiran terkait kualitas udara menjelang pertandingan yang diperkirakan akan disaksikan lebih dari 80 ribu penonton.
Bagi Spanyol, kunci kemenangan terletak pada kemampuan menjaga ritme permainan dan mendominasi penguasaan bola. Sementara Argentina diprediksi akan berusaha mengubah jalannya laga menjadi pertarungan penuh intensitas yang mengandalkan mental, pengalaman, dan keajaiban dari Lionel Messi.
Apabila mampu membawa Argentina meraih gelar juara, Messi akan mengakhiri perjalanan Piala Dunianya dengan cara yang paling sempurna, yaitu mempersembahkan gelar dunia kedua bagi negaranya.
Ikuti Detak.media
