Detak.media — Bursa Efek Indonesia (BEI) masih mencatat adanya empat perusahaan yang berada dalam jalur penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) hingga 17 Juli 2026. Dari jumlah tersebut, sektor kesehatan menjadi sektor yang paling banyak memiliki calon emiten, yaitu dua perusahaan yang siap untuk melantai di bursa.
Sepanjang tahun 2026, tercatat telah ada tujuh perusahaan yang melakukan pencatatan saham di BEI. Total dana yang berhasil dikumpulkan dari pencatatan saham tersebut mencapai Rp 2,16 triliun.
Keempat perusahaan yang masih dalam daftar tunggu IPO ini terdiri dari dua perusahaan berskala besar dengan aset di atas Rp 250 miliar, dan dua perusahaan berskala kecil dengan aset di bawah Rp 50 miliar. Saat ini, tidak ada perusahaan dengan kategori aset menengah yang berada dalam antrean IPO.
Secara sektoral, pipeline IPO memang didominasi oleh dua perusahaan dari sektor kesehatan. Selain itu, masing-masing satu perusahaan dari sektor barang baku dan sektor barang konsumsi primer juga turut dalam daftar tersebut.
Meskipun jumlah perusahaan yang berada dalam pipeline IPO kini tersisa empat, antusiasme investor terhadap saham perdana masih tergolong tinggi. Hal ini terlihat dari beberapa IPO yang baru saja terlaksana.
Contohnya, saham PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) mencatat kelebihan permintaan atau oversubscription hingga 709,93 kali. Sementara itu, IPO PT Niramas Utama Tbk (JELI) diburu oleh 606.892 investor dengan tingkat oversubscription mencapai 273,37 kali. IPO PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI) juga mengalami oversubscription lebih dari 14 kali.
Tingginya tingkat oversubscription pada sejumlah IPO tersebut mengindikasikan bahwa minat investor terhadap saham perdana masih sangat kuat. Dengan demikian, peluang bagi perusahaan untuk memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan tetap terbuka, meskipun kondisi pasar global masih diwarnai oleh ketidakpastian.
Penghimpunan Dana Pasar Modal
Selain IPO, aktivitas penghimpunan dana melalui pasar modal juga masih terus berlangsung. Hingga 17 Juli 2026, tercatat telah diterbitkan 114 emisi efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) dari 62 penerbit. Total nilai emisi yang diterbitkan mencapai Rp 103,86 triliun. Di sisi lain, masih terdapat 11 emisi dari 9 penerbit yang berada dalam pipeline penerbitan EBUS.
Sektor energi mendominasi pipeline EBUS dengan lima calon penerbit. Diikuti oleh sektor keuangan dan infrastruktur masing-masing dengan dua perusahaan, serta sektor barang baku dan barang konsumsi primer yang masing-masing memiliki satu perusahaan.
Untuk aksi korporasi rights issue, BEI mencatat hingga pertengahan Juli 2026 telah ada 15 perusahaan tercatat yang melaksanakan rights issue. Total dana yang berhasil dihimpun dari aksi ini sebesar Rp 10,69 triliun. Saat ini, masih terdapat satu perusahaan dari sektor properti dan real estat yang berada dalam pipeline rights issue.
Ikuti Detak.media
