— Phintraco Sekuritas mencatat bahwa manajemen PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) mempertahankan prospek positif untuk tahun 2026. Proyeksi ini didukung oleh target penjualan lahan seluas 90–100 hektare, potensi peningkatan pendapatan utilitas seiring kenaikan aktivitas industri di JIIPE, serta kelanjutan pengembangan proyek LNG terminal dan FSRU.

Pada semester I 2026, AKRA berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 1,43 triliun, yang merupakan kenaikan 21% secara tahunan (yoy). Pertumbuhan ini ditopang oleh bisnis kawasan industri JIIPE dan kinerja solid pada segmen perdagangan dan distribusi.

“Pendapatan meningkat 44% yoy menjadi Rp 30,8 triliun, dengan segmen perdagangan dan distribusi tetap menjadi kontributor utama melalui pendapatan Rp 28,3 triliun atau sekitar 92% dari total pendapatan,” ungkap Phintraco dalam catatannya, Jumat (24/7/2026).

Bisnis kawasan industri JIIPE menjadi pendorong utama pertumbuhan, mencatat pendapatan Rp 1,7 triliun, meningkat signifikan 102% yoy. Realisasi penjualan lahan mencapai 58 hektare pada semester I 2026, dengan pertumbuhan pendapatan utilitas sebesar 37% yoy. AKRA memperkirakan kontribusi utilitas akan semakin meningkat pada semester II 2026 seiring mulai beroperasinya tenant baru, termasuk smelter tembaga.

Menindaklanjuti kinerja positif tersebut, AKRA membagikan dividen interim untuk tahun buku 2026 sebesar Rp 50 per lembar saham. Jumlah ini setara dengan sekitar 70% dari laba bersih semester I 2026, dengan dividend yield sebesar 3,47% berdasarkan harga penutupan pada 23 Juli 2026. Pembagian dividen dijadwalkan pada 14 Agustus 2026. AKRA tercatat rutin membagikan dividen kepada para pemegang sahamnya.

Berdasarkan data Phintraco Sekuritas, saham AKRA diperdagangkan pada rasio Price to Earnings (PER) 36,56x dan Price to Book Value (PBV) 2,18x. Angka ini tercatat lebih tinggi dari rata-rata PER dan PBV subsektor minyak, gas, dan batu bara, yang masing-masing berada di angka 6,02x dan 1,13x.